Membentuk Akhlaq Tak Semudah Membentuk Es Kepal Milo

Harusnya tulisan ini diunggah tanggal 27 Mei 2018. Tapi karena berbagai pekerjaan yang harus diproritaskan, tulisan ini barus bisa diunggah tanggal 10 Juni 2018.

Masih dengan lampu dan tiang listrik yang sama. Senja kali ini menyuguhkan warna ungu yang manis. Menemani sisa beberapa hari lagi sebelum bertemu dengan hari kemenangan. Apakah saya sudah mengoptimalkan waktu yang tersisa untuk memperbaiki diri?

Terbentur, Terbentur, Terbentur, Terbentuk

Dari sudut pandang psikologi, salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah membentuk perilaku atau membentuk ulang perilaku. Membentuk perilaku biasanya dilakukan ketika kita baru menginjak masa balita atau anak-anak. Masih kosongan istilahnya. Sedangkan membentuk ulang perilaku (Overwrite) dilakukan ketika kita sudah memiliki perilaku tertentu.

Saya bilang sulit karena saya sendiri yang sudah masuk usia dewasa saja masih sulit. Usia dewasa berarti sudah memiliki pola pikir yang lebih matang, tingkat rasionalitas yang lebih tinggi dibanding remaja atau anak-anak. Apalagi anak-anak dan remaja yang masih cenderung pada sisi emosional dan minim menggunakan rasionalitas.

Walaupun saya hanya jadi tukang potret dan tidak ikut sebagai tim pendidik, sedikit banyak saya juga berinteraksi dengan anak-anak yayasan. Ada yang ceria, ada yang super diam (macam saya), ada yang tidak suka diatur, ada yang suka misuh, ada yang nurut, dan lain sebagainya. Begitu banyak karakter dalam satu tempat. Ada lebih dari 50 anak yang harus ‘dikendalikan’ setiap harinya. Sedangkan sumber daya manusia yang tersedia hanya sekitar 4-5 orang.

Beberapa interaksi dan pengamatan singkat membentuk hipotesis baru, bahwa masih ada potensi untuk mereka membentuk akhlaq yang diprogramkan, apabila kita punya waktu yang lebih banyak dan SDM yang punya keahlian lebih baik lagi.

Continue reading “Membentuk Akhlaq Tak Semudah Membentuk Es Kepal Milo”

Proyek Menulis Layaknya Proyek eKTP

Menulis

Sudah sebulan lebih semenjak tulisan terakhir dibuat. Rencana yang harusnya mau rutin menulis harus ditunda karena rencana yang lain. Proyek nulis ini seperti eKTP yang tak kunjung ‘e’. Rencananya mau membuat ID Card kekinian, tapi uangnya malah dikorupsi besar-besaran. Dan masih satu dalang besar yang baru kena. Proyek triliyunan tidak mungkin hanya dimotori seorang diri saja.

Terlebih lagi, plastic yang kita dapatkan sekarang hanya beda jenis saja dengan yang sebelumnya. Menurut saya, tidak seharusnya ada kata ‘e’ di depan. Toh kita juga tidak bias menikmati fasilitas daring dari kartu identitas buatan negara itu.

Tapi sudahlah… Masalah lain terus bergulir. Kasus-kasus lain seperti terorisme, suhu politik yang kian hari kian panas, dan bulan Ramadhan yang sudah menginjak hari ketujuh. Daripada semakin tidak relevan, lebih baik kita bahas masalah yang terakhir saja.

Continue reading “Proyek Menulis Layaknya Proyek eKTP”

Rebranding Games

The Reign of Mobile Legends

Saya pikir, hampir enggak ada makhluk millennial yang enggak kenal Mobile Legends: Bang Bang. Permainan mini berdurasi sekitar 15-30 menit setiap babak ini merupakan game terpopuler untuk kategori Top Free(mium) Action dan telah diunduh lebih dari 100 juta kali di Play Store.

mobile legends
Sumber: vazgaming.com

Saya sendiri termasuk orang yang sudah pernah mencoba memainkan permainan ini. Eksperimen saya ini berlangsung selama 30 menit. Secara umum pola permainannya mirip dengan DOTA 2. Mainnya juga jauh lebih sederhana karena tinggal pencet-pencet layar gawai saja. Justru yang bikin berkeringat adalah ketika kita hampir mati, dikejar-kejar 5 lawan sekaligus, dan kita jauh dari ‘rumah’. Gema ‘monster kill’ akan segera hadir dalam sukma kita. Mungkin umpatan bernada sarkastik juga akan hadir di fitur ngobrol. Silahkan mengutuk diri karena jadi beban tim.

Sebaliknya, ketika berhasil menghabisi 2, 3, bahkan 5 musuh sekaligus, GGWP dan raungan Savage akan menjadi memori yang manis. Tinggal skrinsut saja dan langsung unggah ke media sosial terdekat. Produksi dopamine meningkat drastis dan menciptakan pleasure yang membuat kita ingin main lagi dan lagi. Sungguh momen yang indah.

Oke, cukup sampai disitu saja penjelasannya. Saya tidak akan membahas adiksi gim karena saya pikir hal itu sudah sering. Mari menggunakan kacamata marketing untuk mengulik bagaimana fenomena yang sedang hits di Tanah Air ini bisa diambil saripatinya.

Continue reading “Rebranding Games”

Slamet

Setelah hidup selama hampir 23 tahun, akhirnya saya menemukan seseorang dari negeri sendiri yang bisa menjadi role model dalam hidup saya. Bukan lagi tokoh fiksi dalam varian game Final Fantasy yang sering saya mainkan ataupun dari cerita novel, komik, bahkan film. Bukan juga dari ceruk lain di dunia. Beliau adalah orang Indonesia.

Namanya R. Slamet Iman Santoso. Akrab dipanggil Slamet oleh kawan dan kerabat. Sempat hampir meninggal ketika baru lahir karena terbungkus oleh selaput-yang-saya-lupa-namanya (seriously, what is that thing again?) dan akhirnya bisa berhasil diselamatkan. Mungkin itu yang menginspirasi kedua orang tua beliau dan akhirnya menyematkan nama Slamet sebagai identitas.

Waktu saya membaca autobiografi beliau, jujur saja, saya kurang nyambung dengan apa yang disampaikan. Bukan karena penyampaian yang rumit, tapi lebih kepada kondisi zaman yang jauh berbeda. Beliau hidup sejak zaman Belanda, proklamasi kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, reformasi, hingga tahun 2000an sebelum akhirnya beliau menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, yang menurut saya memenuhi kriteria ideas worth spreading.

Continue reading “Slamet”