Tentang SIMAK (1/2)

Gerbang masuk Masjid UI

Mengikuti SIMAK UI untuk melanjutkan studi S2 adalah salah satu hal tergila yang pernah saya lakukan sejauh ini. Sebagai orang yang lebih sering pesimis, sampai tulisan ini dibuat, saya masih nggak yakin dengan kemampuan saya untuk bisa menembus SIMAK UI.

Sebenarnya ada dua hal yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini: SIMAK UI dan pertemuan saya dengan dua teman pena yang berdomisili di Jakarta. Saya gabung jadi satu biar nggak ribet nulisnya. Lagipula ini satu perjalanan.

Dua tahun memproyeksikan dan merencanakan. Dengan kondisi hasil studi S1 yang tidak terlalu memuaskan, saya memutuskan untuk menambah rencana studi baru. Ada dua pilihan. Ikut kursus daring atau melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana. Setelah menimbang, diputuskan untuk mengusahakan pascasarjana terlebih dahulu.

Dua tahun bukan hanya soal mempersiapkan ujian, tapi juga dana. Jika saya lolos, biaya hidup dan kuliah pasti akan besar. Biaya ini belum digabungkan dengan biaya kuliah S1 yang masih harus saya penuhi selama 2 semester dan biaya wisuda yang juga tidak kecil.

Dua tahun juga sebagai persyaratan untuk memasuki jurusan dan peminatan yang saya pilih. Pengalaman kerja dibutuhkan untuk menunjang proses kuliah. Untungnya tidak ada bidang spesifik yang disyaratkan. Jadi saya bisa kerja di bidang apa saja.

Bulan September hingga Oktober 2019 menjadi bulan yang penuh dengan soal TPA dan Bahasa Inggris. Katanya SIMAK UI itu sulit. Jadi persiapannya juga dari jauh-jauh hari.

Continue reading “Tentang SIMAK (1/2)”

Melahirkan fauziea.com

Berbulan-bulan merencanakan untuk upgrade blog menjadi website seutuhnya, dengan domain .com yang sudah saya impikan sejak tahun lalu, akhirnya mimpi itu terjawab hari ini.

Mengumpulkan uang untuk biaya kuliah dan wisuda beberapa bulan lalu sudah menjadi pekerjaan rumah sendiri. Tidak banyak rupiah yang bisa dikumpulkan untuk membeli Top Domain Level. Masa studi memang cukup menguras tabungan pribadi. Apalagi untuk membuat kartu kredit. Itu adalah hil yang mustahal. Tapi untungnya sebuah kebetulan menjawab permasalahan di atas.

Patjar Merah yang sempat datang di Malang, menjadi titik awal saya membuat kartu Jenius. Ketika hendak membayar buku yang ingin saya beli, ada kakak perempuan berkerudung yang mengeluarkan kartu untuk membayar buku yang ia beli. Warnanya biru muda dan bertuliskan Jenius. Saya kira itu sebuah kartu kredit baru khusus untuk anak muda. Di samping itu, karena dipakai di mesin EDC BCA, saya pikir itu salah satu produk baru dari BCA. Berkat pengalaman itu, saya mulai kepo dan melakukan riset tentang kartu ini.

Kebetulan beberapa hari kemudian, akun shitpost film di Twitter yang saya ikuti, sempat memberikan thread tentang pembajakan Netflix. Salah satu alasan kenapa orang Indonesia kerap melakukan pembajakan dari serial yang disajikan Netflix adalah metode pembayaran. Tidak semua orang punya kartu kredit dan tidak semua mau membuat kartu kredit. Cara yang sedikit berbeda dengan kartu debit belum tentu bisa diterima oleh semua orang. Termasuk saya sendiri.

Continue reading “Melahirkan fauziea.com”

Hallyu

Berkali-kali dihujami Korea di TV dan radio tiap hari membuat saya punya rasa penasaran lebih. Belum lagi berita-berita di TV yang tak jarang punya segmen khusus untuk membahas gelombang budaya populer ini. Tak lupa boygroup macam Bangtan Boys dan bala tentaranya yang sudah sering malang-melintang di jagad Trending Topic. Semua “serangan” yang saya hadapi membuat saya kepengen ngulik lebih dalam.

Berbekal YouTube dan Spotify, saya mulai dari salah satu idol group yang cukup terkenal. Makin penasaran, saya mulai lompat ke beberapa idol group lain. Bahkan sempet nyari yang akustik macam Akdong dan 10cm. Penyanyi solo seperti Gummy dan IU juga sempat masuk playlist. Yah, sekarang sudah terverifikasi bahwa selain lagu Indonesia, barat, dan anime, saya mulai memfavoritkan lagu dan penyanyi Korea juga.

Continue reading “Hallyu”

Fauzie Ardiansyah

Kesempatan 40 Hari

Sudah hampir 6 bulan berjalan di tahun 2018 ini. Termasuk bulan Ramadhan yang sudah ditunggu-tunggu sejak awal Januari lalu. Berakhirnya bulan Ramadhan juga berarti terselesaikannya satu resolusi tahun ini. Membuat karya-karya baik buat orang-orang di Malang dan memperbaiki diri seoptimal mungkin.

Jujur saja, saya hanya merencanakan untuk jadi relawan di salah satu yayasan di Malang dan membantu dengan kemampuan yang saya bisa. Beruntungnya saya, karena saya diberikan pekerjaan yang tidak terlalu saya kuasai. Sebenarnya sederhana hanya mengambil gambar, mengedit gambar, dan membuat video. Tugas pertama tidak ada masalah. Tantangan justru hadir pada tugas kedua dan ketiga.

Masalah hadir ketika saya harus membagi waktu antara pekerjaan profesional dengan tugas sebagai relawan. Memulai kerja lebih pagi, mengurangi jam istirahat siang hari, berangkat ke tempat yayasan setiap sore, dan mengakhiri hari sekitar jam 10 malam setiap hari.

Belum lagi bertemu dengan adik-adik yayasan yang kadang menyenangkan, kadang menggemaskan, dan kadang juga membuat emosi memuncak. Asam manis jadi relawan pada tahun ini cukup membekas dan membuat saya bisa lebih mengenal banyak hal, banyak orang baru, banyak kondisi warga yang belum layak, dan adik-adik yang perlu dibina lebih tekun dan dengan orang yang lebih ahli lagi.

Beberapa hari ini sudah mulai kangen dengan suasana seperti itu. Walaupun terkadang cukup bikin panas hati dan kepala, ada momen-momen ketika mereka memberi inspirasi secara tidak langsung buat saya. Semoga saya dan kawan-kawan saya bisa dipertemukan dengan bulan Ramadhan lagi tahun depan. Aamiin.

Continue reading “Fauzie Ardiansyah”