Mie Thailand

Selasa, 28 Januari 2020

Nggak, saya nggak ke Thailand. Uangnya buat kuliah S2 aja. Buat kuliah aja masih bingung mau cari beasiswa kemana. Mie Thailand ini saya dapet dari sahabat pena saya yang kebetulan meraih kesempatan untuk pergi sekolah ke Thailand. Anak IPB jurusan gizi yang masuk program pengiriman pelajar ke Negeri Gajah Putih. Jasmine sudah 6 bulan disana dan makanan yang saya minta tolong bawakan adalah mie instan.

Mama tidak pernah memasak. Makanan kemarin malam juga sudah habis. Saldo dompet elektronik belum terisi. Keluar rumah juga akan waktu lama karena tidak ada warung yang dekat dengan rumah. Satu-satunya jalan adalah membuat mie instan. Berhubung saya sudah mendapatkan kiriman mie instan dari Jasmine, tidak ada salahnya untuk mencoba sekarang.

Tidak ada cara khusus untuk menyeduh mie dari Thailand. Saya kira akan ada metode menarik yang bisa dicoba seperti makanan khusus keadaan darurat yang disediakan pemerintah Jepang jika terjadi bencana.

Mungkin saya hanya agak ragu untuk mencampurkan beberapa bumbu yang tersimpan di dalam kemasan. Bumbu warna merah yang tidak terlalu dipahami dan bumbu bubuk seperti mie pada umumnya. Saya baca lagi bungkusnya dan sudah terdapat label halal. Keraguan saya berkurang.

Tidak butuh waktu lama, mie telah selesai dihidangkan. Tidak tertarik untuk membuat foto layaknya food photographer profesional, karena saya sudah lapar. Jam makan siang juga tidak banyak.

Mie ini punya bumbu yang sangat pekat. Thailand juga merupakan salah satu negara yang punya kemampuan dalam mengolah rempah selain Indonesia. Bedanya, berdasarkan yang saya rasakan dari mie ini, Thailand lebih menonjolkan rasa masam dibanding gurih. Beda sekali dengan Indomie goreng original yang punya rasa gurih khas di setiap sendoknya.

Di samping itu, warna merah yang ada di kuah bukan berarti mie-nya akan terasa pedas seperti mie dari neraka yang kerap populer di berbagai daerah. Rasa pedas tidak terlalu kentara. Kuahnya juga sedikit hambar. Ukuran mie yang kecil juga tidak begitu terasa di mulut.

Setidaknya ini menjadi pengalaman makan siang yang baru. Apalagi mie-nya saya dapatkan dari orang yang spesial. Terima kasih.

Senin, 17 Februari 2020

Beda dengan yang sebelumnya, kali ini saya nyobain mie goreng instan dari Thailand. Kalau yang ini ada foto bungkusnya karena yang kemarin udah laper duluan dan jadinya lupa ngefoto.

Mie yang satu ini juga punya dominan rasa asam yang gak beda jauh dengan mie sebelumnya. Ukurannya juga tetap kecil. Bedanya mungkin lebih pedas, dari mie kuah yang sebelumnya. Jika dimakan dengan tambahan bahan lain seperti telur, atau ayam goreng, rasa asamnya akan lebih samar dan bisa lebih dinikmati.

Mie yang menjadi penyelamat ketika buka puasa, karena sekali lagi saya harus menghemat dana, khususnya dana dompet elektronik ketika itu. Makanan memang bisa menjadi sebuah cerita. Bukan hanya sekadar pemuas kebutuhan biologis dan sumber energi untuk makhluk hidup. Mungkin ini yang dirasakan para chef, food vlogger, food critique, baker, dan profesi-profesi lain yang berhubungan dengan kuliner.

Kesimpulannya, dua mie instan Thailan ini bukan untuk saya. Saya masih membuka kesempatan untuk mencoba rasa lain dari mie instan Thailand. Tapi untuk sekarang, saya akan kembali ke Indomie favorit saya.

Mie Telo

Hari pertama tahun 2020 saya buka dengan memakan mie telo, sebuah produk mie dari Republik Telo yang ada di daerah Lawang, Jawa Timur. Saya dan Jasmine yang masih berlibur akhir tahun sekaligus akhir tahun, ditemani hujan yang kurang empati di daerah utara Malang, menempuh jarak sejauh 1 jam perjalanan untuk bisa menikmati mie telo goreng ini.

Mie telo goreng

Tujuan utama kesana juga karena ingin beli bakpau telo untuk dibawa pulang ke rumah Jasmine. Ketika melihat daftar menu di internet, kami menemukan mie telo yang belum pernah dicoba. Walaupun sudah bertahun-tahun tinggal di Malang, saya cuma tau ada bakpao telo dan olahan telo berkardus yang bisa dibawa pulang. Tidak membayangkan sama sekali kalau bakal ada olahan mie juga.

Continue reading “Mie Telo”

Mie RamenYa!

Jakarta
Sabtu, 9 November 2019

Makanan yang paling saya cari ketika berkunjung ke Jakarta tanggal 9 November lalu adalah mie. Awalnya ingin makan bakmi GM atau Yasin yang katanya terkenal di ibukota. Di Malang juga tidak ada cabang yang buka, jadi ingin memanfaatkan kesempatan yang sebentar untuk sekadar menyicip satu mangkok saja. Hanya saja, karena tempat yang tidak bisa digapai beberapa langkah, saya memutuskan untuk mengurungkan niat dan makan mie yang lain.

Berhubung saya dan Erika, teman pena saya yang baru saja nonton Perempuan Tanah Jahanam di Blok M Plaza, akhirnya kita mencari tempat makan yang di sekitaran Mall tersebut. Banyak sekali pilihannya. Saya sampai bingung Mall yang cukup besar bisa se-rame itu. Maklum saja, di Malang, Mall sebesar itu tidak ada dan saya pikir tidak akan pernah ada.

Setelah beberapa putaran mencari, akhirnya kami memutuskan untuk makan ramen. Mie dari Jepang yang kerap saya lihat dalam anime Naruto. Saya belum pernah makan ramen sebelumnya. Khususnya yang buatan koki restoran. Kalau mie instan udah pernah.

Continue reading “Mie RamenYa!”

Tentang Mie

Mie adalah sebuah cara unik untuk menyuplai asupan karbohidrat manusia. Ketika orang-orang kerap memakan beras, umbi-umbian, jagung, atau olahan gandum seperti roti, ada kalangan-kalangan tertentu yang ingin menciptakan sajian baru.

Saya bersyukur orang dulu sudah pernah menemukan mie. Ada opsi di samping nasi yang sudah menjadi makanan pokok orang Indonesia. Mie instan selalu menjadi andalan ketika sedang melepaskan hasrat. Walaupun memang jangan makan terlalu banyak karena tidak baik untuk kesehatan.

Bikin mie sendiri? Udah pernah beberapa kali. Walaupun memang bikinnya rame-rame, bukan sendirian. Adonannya pun juga sudah ada, jadi bukan murni dari resep sendiri. Tapi setidaknya jadi kenal proses pembuatannya. Mulai pemesanan bahan, mengolah adonan, bumbu, menyeduh, menakar antara bumbu dan mie, dan menyajikan hingga siap dimakan.

Sebagai makanan favorit, saya pikir sudah waktunya untuk membuat kategori tulisan baru. Mie Punya Cerita akan beberapa kali muncul di blog ini. Tergantung budget dan ketersediaan. Manfaat? Nggak ada. Ini buat saya sendiri. Nggak ada pembaca juga nggak masalah. Saya cuman berharap bisa merekam cerita-cerita makan mie yang mungkin akan saya baca di beberapa tahun berikutnya.

Selamat makan mie berikutnya!