Aaron Sorkin – Screenwriting (5/5)

Rewriting

Selesaikan dulu draft pertama sebelum proses rewriting. Biasanya di pikiran udah bagus banget, tapi di draft pertama biasanya nggak semua yang di pikiran tertuang di tulisan.

Setelah draft pertama selesai, kembali ke awal tulisan dan mulai hilangkan bagian yang tidak termasuk dalam konflik utama.

Biasanya kamu akan menulis adegan yang bagus, dialog yang lucu, atau dialog yang emosional. Meskipun tulisannya bagus, tapi kalau ada bagian yang nggak perlu dan harus dipotong, berarti harus dipotong. Aaron ngasih istilah killing your darling.

Dalam Fargo, menurut Aaron, Coen Brothers bikin adegan Frances Mcdormand ketemu dengan teman lama, walaupun ini sebenarnya nggak masuk dalam plot cerita. Kalau kerjasama dengan studio, biasanya pihak produser akan minta untuk potong adegan semacam ini.

Aaron biasanya lebih suka cerita yang nggak semua adegan berhubungan dengan plot, seperti yang dilakukan Coen Brothers. Ada jeda untuk ambil nafas, mengatur pace cerita, dan balik mengikuti plotnya lagi.

Temukan partner editing yang tepat. Proses ini ketemunya butuh waktu. Hati-hati dalam mendengarkan masukan dari siapapun. Produser, sutradara, teman penulis, dsb. Pastikan mereka nggak coba mengubah cara menulismu agar mirip dengan gaya menulis mereka.

Continue reading “Aaron Sorkin – Screenwriting (5/5)”

Aaron Sorkin – Screenwriting (4/5)

Group Workshop

Dalam MasterClass-nya, Aaron membuat sebuah group workshop yang berisi 5 penulis muda dan menceritakan adegan pembuka dari skenario masing-masing.

Dari skenario JJ Braider, dia membuka cerita dengan banyak action. Sebagai catatan umum, Aaron menjelaskan bahwa seringkali screenplay dibuat seperto blueprint untuk membangun rumah. Screenplay dibuat untuk instruksi dari penulis ke sutradara untuk bikin film, tapi sayangnya screenplay seperti itu kurang menjelaskan emosi yang akan disampaikan. Untuk bisa memberikan emosi dalam action yang ditulis, Aaron menyarankan untuk menulis deskripsi action yang nggak terlalu pendek agar emosi dari karakter bisa tersampaikan ke aktor.

Dari skenario Jeanie Bergen, Aaron ngasih saran untuk tanya ke diri sendiri, “Apa saya paham dengan screenplay yang baru saya baca?” Jangan langsung bahas soal bagus atau jelek, karena biasanya kamu lebih banyak tahu di kepala dibanding apa yang bisa kamu tuliskan. Pastikan kamu paham atau nggak soal screenplay-nya.

Selain itu, kalau kamu mau pitching cerita ke produser, khususnya produser dari TV, kamu bakal denger banyak masukan-masukan soal aturan dalam penulisan cerita. Bahwa karakter A nggak mungkin bisa laku kalau diceritakan, plot A nggak akan mungkin diproduksi, dan sebagainya. Ingat bahwa ini bukan aturan asli dalam penulisan. Ini stigma yang kadang jadi penyakit dari studio dan menghambat penulis untuk bikin model cerita yang baru.

Continue reading “Aaron Sorkin – Screenwriting (4/5)”

Aaron Sorkin – Screenwriting (3/5)

Aturan Cerita

Aaron menyarankan untuk banyak nonton film, pertunjukan teater, dan serial TV sebagai media belajar. Jadi nggak hanya nonton aja, tapi juga diteliti. Dia menyarankan juga untuk baca banyak screenplay untuk film, pertunjukan teater, dan serial TV nya (kalau tersedia). Kalau perlu juga bisa pas nonton yang kedua kali, kamu nonton sambil bawa screenplay-nya. Jadi bisa membandingkan antara yang ditulis screenwriter dan hasil terakhirnya. Jangan malas untuk membedah sesuatu yang kamu minati.

Sebagai catatan, Aaron ini dulu sekolah jurusan drama. Udah punya gelar Bachelor of Fine Arts. Dia juga jadi playwright dulu sebelum jadi screenwriter. A Few Good Man itu cerita pertunjukan teater Aaron awalnya, terus dijadikan film dan ini pengalaman pertama dia sebagai screenwriter. Jadi banyak pengaruh dari background dia yang demikian.

Menurut Aaron, aturan membuat seni membuat seni cantik. Analoginya seperti olahraga yang juga punya aturan dan membuatnya menarik. Analogi lainnya seperti musik yang juga punya aturan-aturan khusus agar membuat lagu yang kita dengar jadi menarik dan indah. Kalau mau seni yang sangat bebas dan nggak ada batasan sama sekali, mending kamu coba finger painting.

Aaron menganjurkan jadi Diagnostician, khususnya buat penulis pemula. Kalau kamu nonton sebuah film atau serial TV dan nemu sesuatu yang janggal atau nggak logis dalam ceritanya, jangan dijulidin atau dihujat langsung. Mending didiagnosa apa aja yang bikin cerita ini nggak bekerja. Kamu jadi bisa identifikasi kenapa film ini bagus dan elemen-elemen di dalamnya bekerja atau sebaliknya, kenapa film ini jelek dan mana elemen yang bikin ceritanya jadi kacau.

Hindari aturan-aturan atau stigma dari orang yang nggak berpengalaman. Dulu pernah ada salah satu orang TV yang bilang kalau orang cerai, orang Yahudi, orang dari New York, dan orang berkumis nggak akan masuk ke TV dan diproduksi. Buktinya sekarang udah ada banyak cerita dengan tema seperti itu. Mending kamu belajar prinsip dasar cerita daripada dengerin stigma yang seperti itu.

Aaron menganjurkan buat baca Poetics karyanya Aristotle. Dia menganggap ini adalah aturan dasar kalau mau bikin cerita drama. Ada link kalau mau baca bukunya secara gratis. Dari yang saya baca, secara umum rangkumannya begini:

Aturan Drama

Drama itu imitasi dari kehidupan nyata. Apa yang dirasakan penonton pas nonton nggak harus sama persis dengan kehidupan nyata. Yang penting imitasinya harus bikin penonton tertarik dan terikat secara emosional.

Drama bukan sejarah. Hidup itu penuh dengan kebingungan, kekacauan, dan kontradiksi. Nggak harus bener-bener pakai fakta untuk bikin penceritaan yang bagus.

Drama itu aksi, bukan hanya deskripsi dari karakter-karakter keren atau tempat yang menarik. Perlu ada event yang bikin karakter punya perubahan besar dalam hidupnya. Contohnya dari bahagia berubah jadi sedih, nggak punya pekerjaan berubah jadi punya pekerjaan.

Cerita itu punya harmoni dan ritme. Dialog nggak harus terdengar seperti percapakan asli dan adegan nggak harus seperti interaksi di kehidupan nyata. Biasanya dialog dan adegan akan lebih tajam, kental, dan fokus pada sesuatu yang spesifik. Dialog dan adegan juga bisa jadi lebih emosional. Sangat perlu untuk milih kalimat yang tepat, adegan yang menarik secara visual, biar pas ditonton bisa lebih memikat secara emosional, juga ngasih harmoni dan ritme yang pas.

Dari segi genre, prinsip dasar tragedy adalah protagonis biasanya akan mendapatkan perubahan besar dari nasibnya. Hampir selalu dari bahagia ke sedih, baik ke buruk. Kalau dalam comedy, protagonis akan selalu punya cara untuk mengatasi kesedihan yang dihadapi. Betapapun sedihnya. Contohnya mungkin kayak La Vita E Bella (1997), Thor: Ragnarok (2017), atau cerita lain yang kamu tau. Karakter yang tragis harus menderita dan karakter yang komikal harus menjalani hidupnya tanpa menderita.

Struktur Cerita

Cerita yang baik punya awal, pertengahan, dan akhir. Aristotle yang bikin aturan ini pertama kali. Prinsipnya adalah nggak bikin bingung penonton soal apa yang terjadi sebelum ceritanya mulai, apa yang terjadi setelah berakhir, dan gimana sebuah karakter menjalani cerita dari awal sampai akhir.

Sebuah plot juga harus serius, lengkap, dan punya dampak. Nggak bisa ngasih cerita yang nggak logis, cerita yang nggak selesai, atau cerita yang berdampak apa-apa ke penonton. Biasanya penonton bukan hanya cari entertainment, tapi juga sesuatu yang baru di dalam cerita.

Kalau pas mengedit plot, bisa bertanya ke diri sendiri “Plot ini kalau dihilangkan bakal ngaruh ke cerita nggak?” Sehingga bisa tahu nilai pentingnya.

Setiap elemen dalam plot, baik itu adegan ataupun dialog, harus mampu menggerakkan ceritanya ke depan. Urutannya juga harus jelas.

Cerita juga harus berdasarkan sebab-akibat, bukan kebetulan. Hindari Deus Ex Machina atau plot armor. Cerita yang baik adalah yang digerakkan oleh aksi dari karakter, bukan kebetulan dan tiba-tiba menang.

Karakter

Kalau mau bikin antihero, saran Aaron adalah perlakukan dia sebagai heroes dan relate ke mereka biar bisa bikin karakter yang dapat dipercaya penonton.

Dialog karakter datang dari tujuan yang mereka punya dan apa yang mereka pilih.

Kalau bikin karakter juga harus bisa bikin penonton empati ke dia. Bikin background story yang rumit, karakternya masih punya cacat, dan tetap berhubungan dengan cerita. Harus kredibel dan punya aksi yang konsisten juga. Tanyakan ke diri sendiri, “Apakah penonton akan paham dengan karakter yang saya buat?”

Jalan Cerita Film

Drama dan cerita itu berbeda. Drama harus punya konflik. Contohnya, seorang Ratu meninggal, ini fakta. Seorang Ratu meninggal dan Rajanya sedih, ini cerita. Seorang Ratu meninggal, Rajanya sedih dan dia harus mengelola kerajaan yang sedang kacau, padahal sebenarnya Ratu yang dulu mengelola seluruh kerajaan dari balik layar. Raja harus menghadapi orang yang ingin melengserkan dia dan nggak ada yang membantu dirinya. Sudah ada konflik dan ini disebut drama.

Kalau dalam struktur three-act, act 1 bicara soal awal perjalanan hero, act 2 kita kasih hambatan, act 3 hero berhasil atau gagal melewati hambatan.

Kalau kamu pengen hero atau protagonismu tetep hidup atau menang di akhir, kamu perlu memperkenalkan sesuatu yang bikin protagonisnya menang dari awal. Misalkan menangnya pakai pistol, berarti jangan out of nowhere ngasih pistol di akhir ke protagonis. Seengganya kamu bisa kasih lihat pistol ini dulu sebelum sampai ke akhir cerita. Biasanya dimunculin di Act 1.

Tujuan karakter utama harus penting dan bikin penonton suka dengan tujuannya. Penonton berempati kalau karakternya gagal.

Eksposisi menjelaskan apa yang perlu dipahami penonton biar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Contohnya kayak film Steve Jobs yang menjelaskan Macintosh itu penting dalam hidup Steve, kenapa dia begitu perfeksionis, dan meskipun diejek karyawannya sendiri, dia tetep pengen bikin Mac yang sempurna.

Inciting action (biasanya juga disebut inciting incident) yang memulai sebuah drama. Kalau belum ada konflik yang terjadi, berarti dramanya belum terjadi.

Kamu bisa pakai jumlah halaman skenario sebagai rambu ceritanya. Di halaman berapa perlu memperkenalkan karakter, kapan ngasih inciting action, dan seterusnya. Ini untuk mempermudah penulisan. Menurut Aaron, 15 halaman pertama adalah yang terpenting dalam skenario. 15 menit terakhir adalah yang terpenting dalam film.

Kebiasaan Menulis

Butuh waktu banyak untuk proses pengembangan cerita sebelum menulis skenario. Bisa makan waktu berminggu-minggu, bulan, atau bahkan tahun.

Skenario film punya format khusus. Aaron menyarankan pakai software penulisan skenario. Ketika nulis, Aaron biasanya juga pakai index card dan ditempel di papan agar ceritanya terorganisir dengan baik. Biasanya di index card ditulis rangkuman pendek dari adegan.

Contoh index card

Latihan perlu banyak latihan. Tulis yang kamu suka dan penonton akan suka. Nggak perlu memaksa diri buat menulis seperti orang lain.

Kalau kena writer’s block, kamu bisa jalan-jalan di taman, dengerin musik, atau lakukan hal lain yang bikin kamu terinspirasi. Misalnya udah dengerin lagu, kamu bisa bikin adegan yang diisi dengan lagu itu.

Fokus ke progress penulisan. Gunakan apapun yang akan bikin kamu berenergi dan termotivasi. Contohnya mungkin bikin checklist dan coret checklist-nya kalau udah selesai ditulis. Kamu harus ngerasa nyaman ketika menulis.

Aaron Sorkin – Screenwriting (2/5)

Pengembangan Karakter

Karakter lahir dari tujuan dan hambatan yang dibuat penulis. Taktik karakter dalam menyelesaikan hambatan dan mencapai tujuan akan membentuk sifat dari karakter.

Contoh kasus Social Network. Mark Zuckerberg bikin tulisan di blog website Facemash karena marah dengan temannya Erica yang nolak Mark. Facemash ini website yang bandingin dua cewek mana yang lebih menarik. Aaron secara implisit ingin memperlihatkan bahwa Mark punya tujuan jadi mahasiswa keren, diterima secara sosial, dan punya cewek. Mark pengen mempermalukan Erica ke seluruh mahasiswa buat balas dendam. Hal ini juga mengarahkan Mark buat bikin Facebook sebagai pelampiasan tujuannya yang pengen diterima secara sosial, cuman caranya beda, yaitu bersosial secara virtual.

Contoh lain dari serial The West Wing. Bagi yang belum tau, White House punya kantor pusat yang ngurus berbagai hal tentang Presiden dan disebut West Wing. Bikin pidato, atur jadwal, catat setiap hal yang dilakukan Presiden per menit, dsb.

Toby, Kepala Komunikasi Presiden, punya sifat yang blak-blakan dan jujur kalau pas ngasih saran ke Presiden. Karakter lain di West Wing, Leo, Kepala Staff Presiden, pakai cara humoris untuk mengontrol seluruh staff yang kerja di bawahnya. Semuanya punya taktik masing-masing, tapi tujuannya sama, yaitu bikin Presiden bekerja dengan baik.

Saran dari Aaron, jangan bikin biografi karakter yang terlalu panjang dan gak berhubungan dengan cerita. Cukup buat biografi yang sesuai dengan tujuan dan hambatan yang sudah dibuat dari awal.

Continue reading “Aaron Sorkin – Screenwriting (2/5)”