Tentang SIMAK (2/2)

Ini bagian kedua. Kalau belum baca yang pertama, mungkin perlu baca Tentang SIMAK dulu biar paham.

Berhubung pengumuman SIMAK UI Semester Genap dimajukan jadi tanggal 3 Desember 2019, maka rencana saya yang awalnya menuliskan dan mengunggah tulisan ini pada tanggal 10 Desember 2019, akan saya percepat juga.

Tes Potensi Akademik

Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya, TPA terdiri dari tes verbal, kuantitatif, dan penalaran. Saya jelasin satu per satu ya.

Tes verbal bicara seputar kemampuan logika pengolahan kata. Mulai dari sinonim, antonim, dan membaca teks untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan.

Continue reading “Tentang SIMAK (2/2)”

Tentang SIMAK (1/2)

Gerbang masuk Masjid UI

Mengikuti SIMAK UI untuk melanjutkan studi S2 adalah salah satu hal tergila yang pernah saya lakukan sejauh ini. Sebagai orang yang lebih sering pesimis, sampai tulisan ini dibuat, saya masih nggak yakin dengan kemampuan saya untuk bisa menembus SIMAK UI.

Sebenarnya ada dua hal yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini: SIMAK UI dan pertemuan saya dengan dua teman pena yang berdomisili di Jakarta. Saya gabung jadi satu biar nggak ribet nulisnya. Lagipula ini satu perjalanan.

Dua tahun memproyeksikan dan merencanakan. Dengan kondisi hasil studi S1 yang tidak terlalu memuaskan, saya memutuskan untuk menambah rencana studi baru. Ada dua pilihan. Ikut kursus daring atau melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana. Setelah menimbang, diputuskan untuk mengusahakan pascasarjana terlebih dahulu.

Dua tahun bukan hanya soal mempersiapkan ujian, tapi juga dana. Jika saya lolos, biaya hidup dan kuliah pasti akan besar. Biaya ini belum digabungkan dengan biaya kuliah S1 yang masih harus saya penuhi selama 2 semester dan biaya wisuda yang juga tidak kecil.

Dua tahun juga sebagai persyaratan untuk memasuki jurusan dan peminatan yang saya pilih. Pengalaman kerja dibutuhkan untuk menunjang proses kuliah. Untungnya tidak ada bidang spesifik yang disyaratkan. Jadi saya bisa kerja di bidang apa saja.

Bulan September hingga Oktober 2019 menjadi bulan yang penuh dengan soal TPA dan Bahasa Inggris. Katanya SIMAK UI itu sulit. Jadi persiapannya juga dari jauh-jauh hari.

Continue reading “Tentang SIMAK (1/2)”

Mie RamenYa!

Jakarta
Sabtu, 9 November 2019

Makanan yang paling saya cari ketika berkunjung ke Jakarta tanggal 9 November lalu adalah mie. Awalnya ingin makan bakmi GM atau Yasin yang katanya terkenal di ibukota. Di Malang juga tidak ada cabang yang buka, jadi ingin memanfaatkan kesempatan yang sebentar untuk sekadar menyicip satu mangkok saja. Hanya saja, karena tempat yang tidak bisa digapai beberapa langkah, saya memutuskan untuk mengurungkan niat dan makan mie yang lain.

Berhubung saya dan Erika, teman pena saya yang baru saja nonton Perempuan Tanah Jahanam di Blok M Plaza, akhirnya kita mencari tempat makan yang di sekitaran Mall tersebut. Banyak sekali pilihannya. Saya sampai bingung Mall yang cukup besar bisa se-rame itu. Maklum saja, di Malang, Mall sebesar itu tidak ada dan saya pikir tidak akan pernah ada.

Setelah beberapa putaran mencari, akhirnya kami memutuskan untuk makan ramen. Mie dari Jepang yang kerap saya lihat dalam anime Naruto. Saya belum pernah makan ramen sebelumnya. Khususnya yang buatan koki restoran. Kalau mie instan udah pernah.

Continue reading “Mie RamenYa!”

Tentang Mie

Mie adalah sebuah cara unik untuk menyuplai asupan karbohidrat manusia. Ketika orang-orang kerap memakan beras, umbi-umbian, jagung, atau olahan gandum seperti roti, ada kalangan-kalangan tertentu yang ingin menciptakan sajian baru.

Saya bersyukur orang dulu sudah pernah menemukan mie. Ada opsi di samping nasi yang sudah menjadi makanan pokok orang Indonesia. Mie instan selalu menjadi andalan ketika sedang melepaskan hasrat. Walaupun memang jangan makan terlalu banyak karena tidak baik untuk kesehatan.

Bikin mie sendiri? Udah pernah beberapa kali. Walaupun memang bikinnya rame-rame, bukan sendirian. Adonannya pun juga sudah ada, jadi bukan murni dari resep sendiri. Tapi setidaknya jadi kenal proses pembuatannya. Mulai pemesanan bahan, mengolah adonan, bumbu, menyeduh, menakar antara bumbu dan mie, dan menyajikan hingga siap dimakan.

Sebagai makanan favorit, saya pikir sudah waktunya untuk membuat kategori tulisan baru. Mie Punya Cerita akan beberapa kali muncul di blog ini. Tergantung budget dan ketersediaan. Manfaat? Nggak ada. Ini buat saya sendiri. Nggak ada pembaca juga nggak masalah. Saya cuman berharap bisa merekam cerita-cerita makan mie yang mungkin akan saya baca di beberapa tahun berikutnya.

Selamat makan mie berikutnya!