HOME (3/3)

Cerita sebelumnya dari HOME

3/3

Berjalan lunglai, Agni menengok jam yang ada di dinding kantor. Waktu menunjukkan pukul 12 siang dan Agni masih belum berada di rumah. Mobil bak yang dibawa Satpol PP tidak langsung membawanya ke kantor, tapi harus mengitari beberapa tempat lain karena memang patroli hari itu belum rampung. Panas, takut, pusing, dan sedih berkecamuk dalam pikiran Agni. Ia tidak ingin meraba apapun yang akan dihadapi berikutnya. Remaja putri itu hanya duduk diam memandangi papan yang masih ia bawa.

Tanpa tedeng aling-aling, seorang petugas wanita langsung merampas papan yang digenggam Agni. Agni yang terkejut saat itu langsung menatap ke atas dan menemukan seorang perempuan berkerudung dengan tatapan menyelidik. Wajah pucat menyelimuti Agni. Terlihat bahwa ia tidak siap dengan apapun yang ia hadapi saat ini.

“Ini apa, dek?” selidik petugas.
“Pa-papan nama saya, mbak, eh, maksud saya ‘Bu’,” jawab Agni tergagap.
“Nama kamu HOME?”
“Bu-bukan, nama saya A-Agni.”
“Umur berapa kamu?” Tanya petugas sambil melirik Agni.
“14, Bu”
“Terus apa ini? Hug of manner and enjoyment?” Sambil menyodorkan papan tersebut ke Agni.
“Itu artinya pe-pelukan yang sopan dan menyenangkan, Bu….”
“Iya, saya tahu artinya, tapi kenapa kamu bawa-bawa beginian di CFD? Kamu nggak sekolah?” Petugas mulai menunjukkan muka geram.
“Kan hari Minggu, Bu.”

Petugas semakin geram melihat remaja di depannya yang tidak memberikan jawaban yang ia inginkan. Ia duduk di tepi meja dan melirik Agni dengan sinis.

“Ya saya tahu kalau sekarang hari Minggu, maksud Ibu, kamu sehari-hari sekolah atau nggak? Rumah kamu dimana? Kenapa kamu bawa-bawa papan aneh begini dan teriak-teriak gak jelas di jalan? Kamu nggak malu sama orang-orang yang ngeliat kamu?” Kali ini sebuah rentetan pertanyaan yang didapatkan Agni membuat ia mulai menetaskan air mata.

Petugas yang melihat Agni mulai mengambil nafas panjang dan menenangkan dirinya sendiri. Ia mengambil mug kaca yang ada di mejanya dan membawanya ke dispenser. Petugas wanita itu menyodorkan air putih dan meminta Agni untuk meminumnya. Agni meraih mug itu sambil gemetar, lalu meneguknya sedikit. Suara isak Agni terdengar lirih. Sambil menunggu Agni menenangkan dirinya, petugas wanita itu mengambil kursinya dan membawanya ke sebelah Agni.

“Siapa nama kamu tadi? Agi? Agni?” Tanya petugas dengan nada menenangkan.
“Agni, Bu,” jawab Agni lirih.
“Terus kamu tadi ngapain aja di Taman Bungkul?”
“Saya tadi cuma bawa papan ini sambil keliling, Bu.”
“Ngapain itu? Mau demo? Kok sendirian?”
“Bu-bukan, Bu. Saya cuma pengen ngasih pelukan ke orang-orang.”
“Pelukan? Pelukan gimana? Kamu di rumah punya TV? Kamu tau kan kalau pelukan di publik itu dilarang sama Bu Wali? Kamu nggak takut? Kalau kamu dikira mau ngelakuin yang nggak-nggak gimana?

Detak jantung Agni semakin cepat ketika mendengar berbagai pertanyaan yang terus dimuntahkan oleh petugas.

“Saya nge-ngerti kok, Bu, kalau pelukan di tempat umum gak boleh. Wong saya lihat sendiri beritanya di TV.”
“Terus kamu ngapain masih ngelakuin hal kayak tadi? Pake bawa-bawa papan segala lagi. Apa ini? Hug of Manner and Enjoy-enjoy apa ini?” nada bicara petugas mulai meninggi lagi.
“Saya cuman pengen inget Bapak saya dengan ngasih ke pelukan ke orang-orang, Mbak.”
“Maksudnya?”
“Sebelum meninggal, Bapak dulu jadi satpam di Gereja yang pernah diledakkan sama beberapa orang.”

Mendengar hal itu, petugas sontak mengingat berita duka dari gereja di Surabaya yang sempat mendapatkan teror dari oknum tidak bertanggung jawab. Ia menarik kursinya ke depan dan mengelus pundak Agni. Melihat Agni yang tertunduk dan mulai menangis.

“Mas, tolong bikinin teh sama belikan roti buat dia. Makasih ya,” kata petugas kepada salah satu cleaning service yang lewat.

Ketika Agni mulai tenang, ia mulai menceritakan semuanya. Kejadian ketika Bapak menjaga Gereja pada hari itu dan bagaimana Bapak harus menahan salah satu oknum agar tidak bisa masuk ke dalam gereja. Hanya saja, nasib memang berkata bahwa Bapak harus menuntaskan kewajibannya sebagai petugas keamanan. Walaupun itu harus merenggut nyawanya sendiri.

Teman Bapak yang sempat melihat di TKP hanya bisa berlutut dan menangis. Semua beliau ceritakan kepada Agni setelah beberapa hari mendapatkan libur dari pihak Gereja. Beliau sendiri masih tidak percaya. Kebijakan dari Walikota yang telah menyadarkannya bahwa beliau harus mengatakan yang sejujurnya kepada Agni dan Ibunya.

“Ketika saya mendengar aturan itu, saya tiba-tiba sedih mengingat perjuangan Bapak yang harus duluan kembali ke Tuhan.”
“Terus hubungannya sama kamu keliling di Taman Bungkul itu apa?” tanya petugas.
“Saya cuman pengen Walikota melihat bahwa tidak ada yang salah dari pelukan di muka umum. Salahnya cuman ada di orang-orang yang melakukan, soalnya nggak semua orang melakukannya dengan tujuan yang baik. Sebaliknya, nggak semuanya bertujuan untuk menunjukkan rasa sayang dan melindungi satu dengan yang lain. Makanya, Hug of Manner and Enjoyment itu bentuk ekspresi saya bahwa pelukan itu perlu tata krama.”

Petugas yang menyimak cerita Agni mulai menemukan titik terang dari ambiguitas yang ditunjukkan Agni ketika menjajakan pelukan di Taman Bungkul.

“Oke, Agni. Jadi sekarang kamu mau ngapain?”
“Kalau bisa, saya pengen ketemu sama Walikota dan ngobrol langsung sama beliau.”
“Wow, itu tuntutan yang gak gampang, dek. Gimana caranya kamu mau ketemu?”
“Emmm… saya juga nggak ngerti, mbak.”

Hening mulai menyelimuti mereka berdua. Petugas yang tidak habis pikir, hanya bisa menghela nafas dan mengurut kedua pelipisnya agar tidak semakin pusing. Cleaning service yang tadi diminti tolong petugas, datang dengan sebungkus roti sisir dan secangkir teh hangat.

“Sudah, kamu makan dulu. Setelah ini kamu saya antar pulang.”
“Ta-tapi, mbak, nanti……” balas Agni yang mulai takut.
“Makan dulu, dek. Nggak usah banyak alasan.”

Waktu sudah menjunjukkan pukul 2 siang. Agni yang sudah tidak berdaya hanya bisa menatap roti sisir dan secangkir teh yang ditaruh di atas meja. Pikiran hanya tertuju pada satu orang. Ibu.

***

Perjalanan pulang kali ini terasa lebih berat dari biasanya. Dibawa petugas Satpol PP dan diinterogasi di kantor rasanya sudah cukup berat. Bertemu Ibu di rumah sepertinya akan jauh lebih berat lagi. Agni menemukan Ibu yang sudah mondar-mandir di ruang depan. Hari itu, sepertinya Tuhan menenggelamkan Surabaya ke neraka yang lebih panas dari biasanya. Tatapan marah Ibu justru menambah lengkap suasana.

“Astagfirullah! Main terrruuusss!! Kemana aja kamu, Nduk?”

Ia langsung menyalami Ibunya tanpa sepatah katapun. Sambil menunduk, ia langsung berjalan cepat menuju kamar. Derit pintu tua dari kamar Agni terdengar cukup keras. Ditutup dengan dentuman pintu yang tertutup. Suasana kembali hening. Ibu yang menengok ke arah pintu masuk, melihat seorang petugas yang mengantarkan Agni pulang ke rumah.

Petugas menjelaskan semuanya. Soal CFD, soal papan, dan soal bagaimana Agni berakhir di kantor Satpol PP untuk dihujani berbagai pertanyaan dari petugas. Ibu yang mendengarkan hanya bisa menutup wajahnya sambil beristighfar. Beliau kira, kehilangan suaminya adalah hal terberat dalam hidupnya. Hanya saja, sekarang ia menemukan ujian yang lebih berat lagi. Bagaimana seorang perempuan harus bisa tangguh untuk menjaga anaknya agar tidak membahayakan dirinya sendiri.

Ibu yang mulai lemas langsung menuju kursi agar tidak jatuh. Petugas yang mengantarkan Agni juga turut membantu sambil mengelus punggung Ibu.

***

Mata sembab dan wajah yang sendu terlihat dari pintu masuk dapur. Agni yang belum makan dari siang, akhirnya menyerah dan duduk di meja makan. Ibu sudah tau Agni tidak akan tahan jika tidak makan malam.

Setelah cerita tadi, petugas Satpol PP langsung pamit untuk kembali ke kantor. Beliau hanya berpesan bahwa Agni anak yang baik, hanya saja apa yang ia lakukan sangat beresiko dan justru berpotensi membuat orang lain tidak nyaman.

Ibu yang sudah berada di meja makan, segera menyiapkan piring dan mengambilkan nasi, lauk, dan sayur untuk Agni. Cerita dari Satpol PP tadi masih tetap terngiang dalam pikiran Ibu.

“Bu….”
“Sudah makan dulu, kamu lapar kan,”Ibu memotong.

Makan malam antara Agni dan Ibunya hanya diiringi oleh suara sendok, piring, dan kunyahan makanan mereka berdua.

Tak lama, Agni merampungkan makan malamnya dan segera merapikan piring yang telah ia gunakan. Ibu yang juga sudah selesai segera mengambil piring Agni untuk mencucinya. Hanya saja, Ibu tidak segera beranjak ke ember cuci piring. Sambil memangku piring kotor, Ibu menatap Agni yang tengah duduk di hadapan beliau.

“Gimana? Kenyang?” Ibu membuka percakapan.

Agni segera menunduk dan mengangguk, mengiyakan.

Segera, Ibu meletakkan kembali piring kotor ke meja dan beranjak duduk di sebelah Agni. Tidak ada kata yang terucap dari mulut beliau. Tangannya yang kasar karena sering bekerja mulai mengelus punggung Agni. Agni tetap menundukkan kepalanya. Tak berani melihat Ibunya.

“Ibu minta maaf ya, Ni. Maaf kalau Ibu selama ini gak bisa sering nemenin kamu,” mulai memeluk anaknya yang kalut.
“Ng-nggak, Bu….. Agni. Agni yang salah. Agni yang harusnya minta maaf.”

Tak banyak kata yang tertuang dari mereka berdua. Bukan karena tak mampu, tapi memang hanya sebuah pelukan yang mereka butuhkan saat ini.

***

Waktu menunjukkan pukul 19.30. Ibu yang sudah kecapekan tengah beristirahat di dalam kamar beliau. Agni beralih ke ruang keluarga dan menyalakan TV yang sudah lama tidak pernah ia sentuh. Biasanya, JTV yang sering ia tonton akan menayangkan berita selama 3 menit. Namun, berita kali ini berbeda. Berita yang tidak akan pernah ia sangka. JTV menayangkan sebuah petunjuk baru bagi perjalanan Agni yang sudah mulai buntu.

Menyerah? Seperti namanya, Agni adalah api. Sebuah nama yang dulu diusulkan oleh almarhum Bapak. Api bukan melulu soal destruksi dan mengubah materi menjadi abu. Api juga soal hidup dan semangat. Sebuah fenomena alam yang mampu menyala dalam kelam.

Ia tahu bahwa ini adalah yang paling beresiko dari semua aksi yang pernah ia lakukan selama ini. Ia juga tahu, Ibu akan lebih sedih lagi jika tahu apa yang akan Agni lakukan esok hari. Namun, setelah mendengar berita dari TV, Agni kembali ingin menuntaskan misinya. Api kecil yang masih ada dalam dirinya, ingin melihat akhir cerita dari tiap lembar yang ia habiskan di jalanan. Percobaan terakhir yang entah akan menjadi harapan atau justru kehancuran.

***

25 November 2019. Sekolah-sekolah akan merayakan Hari Guru Nasional yang jatuh pada hari ini. Para guru dan murid akan bersiap di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera dan penghargaan kepada guru-guru yang telah menjaga arah langkah pendidikan di Indonesia.

Agni sebagai seorang siswa di salah satu sekolah negeri juga telah mengenakan seragam putih biru. Lengkap dengan topi, dasi, dan sepatu hitam yang wajib dipakai untuk menghadiri upacara. Hanya saja, kali ini di dalam tasnya terdapat beberapa barang khusus untuk menjalankan misinya pagi ini. Semalaman ia menyiapkan barang-barang yang ia butuhkan. Untung saja semua selesai dan siap untuk digunakan.

Hari ini pabrik sedang tidak memberikan shift kerja, jadi setelah pamitan, Agni langsung berangkat. Jam di dinding rumah sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Masih ada waktu untuk jalan kaki ke tempat yang akan dituju Agni.

Rumah dan sekolah Agni yang ada di Jalan Juwingan memang tidak terlalu jauh dari tempat peresmian gedung Museum Pendidikan Surabaya yang ada di daerah Genteng. Perjalanan yang mungkin bisa ditempuh selama 30 menit jika naik bemo. Berbekal baju sehari-hari yang disimpannya dalam tas dan papan bertuliskan HOME yang lebih besar dari sebelumnya, di Senin pagi yang cerah itu Agni melakukan misi bonek-nya.

Jalanan hari Senin kali ini memang lebih padat dari biasanya. Agni yang tidak terbiasa merasakan jalanan macet jadi semakin gugup. Biasanya, ia hanya perlu jalan kaki karena sekolahnya juga tidak terlalu jauh dari rumah. Seragam sekolah yang ia pakai keluar rumah telah ditanggalkan. Diganti dengan baju bebas yang sudah ia siapkan kemarin.

Museum Pendidikan Surabaya baru saja dibangun dan akan diresmikan hari ini. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang juga dirayakan pada tanggal 25 November 2019. Berita kemarin malam yang menyadarkan Agni bahwa masih ada kesempatan untuk bertemu dengan Bu Wali. Bu Walikota sendiri yang akan meresmikan gedungnya.

Gedung peresmian sudah cukup ramai dengan penjagaan. Ada beberapa anggota polisi dan TNI yang berjaga di tiap titik. Gedung yang dipakai di museum memang gedung yang cukup tua. Sepertinya Bu Wali memang sengaja untuk memilih gedung bersejarah agar bisa lebih menarik perhatian pengunjung.

Hari pendidikan jadi hari yang tepat untuk meresmikan gedung. Agni yang sengaja tidak pergi ke sekolah sudah bersiap di sebrang gedung. Jam kecil yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul 7.45. Belum ada tanda-tanda kehadiran Bu Wali.

Rencana yang ia buat semalam bukan berarti mampu memberanikan dirinya untuk berteriak di depan para pejabat penting yang bersiap. Penjagaan ketat dan pengalaman ditangkap Satpol PP kemarin membuat Agni semakin bergidik. Membayangkan dirinya kembali ditembaki berbagai pertanyaan dari para petugas. Bahkan mungkin petugas yang jauh lebih seram dari petugas Satpol PP kemarin.

Menit demi menit berlalu. Tepat pukul 9 pagi, Bu Wali datang bersama rombongan pejabat lain yang hendak menyiapkan pengguntingan pita di depan gedung Museum. Pasukan polisi dan tentara yang menjaga tempat itu semakin sigap dan waspada dengan setiap gerak-gerik mencurigakan. Agni yang mengamati hal itu semakin takut. Kakinya tidak bisa diam, suhu tubuhnya semakin turun, dan keringat dingin mulai bercucuran di sekujur tubuhnya. Ia terus membayangkan bagaimana jika ia nekat menerobos dan ditangkap.

Hingga akhirnya pikiran Agni tertuju pada satu orang. Beliau pasti akan semakin sedih ketika mendengar anaknya menciptakan masalah baru. Kekalutan itu mulai luruh ketika Agni semakin mengingat bagaimana raut wajah Ibu yang sedih jika anaknya berbuat yang tidak wajar. Setelah memantapkan hatinya, ia memutuskan untuk mengganti pakaiannya di salah satu WC umum dan menaiki bemo untuk kembali ke sekolah. Peresmian gedung Museum Pendidikan yang baru tak pernah mendengar cerita tentang seorang anak yang menjajakan pelukan kepada para pejabat pemerintah.

***

Pukul 14.30, beberapa teman Agni bertanya kemana ia pergi selama upacara dan jam pelajaran pertama. Agni yang sudah lelah karena harus masuk ke sekolah dengan memanjat pagar, memilih membisu dan tak menggubris teman-temannya. Ia tak mau ambil pusing dan langsung mengambil jalan pulang. Teman-temannya hanya bisa melihat heran.

Pintu rumah selalu terbuka ketika Ibu libur bekerja. Terlihat sekilas Ibu yang tengah duduk di pelataran rumah. Agni yang melihatnya agak heran karena itu tidak seperti Ibu biasanya. Ketika Ibu melihat Agni, tampak senyum bahagia disertai tangis haru dari wajah Ibu yang sudah semakin keriput. Agni yang semakin heran, menghampiri Ibu yang memberikannya secarik kertas dengan sebuah kop dari Balaikota Surabaya.

Kepada,
Anakku Agni

Ibu memohon maaf yang sebesar-sebesarnya atas kehilangan yang dirasakan keluarga dan kerabatmu. Ibu sudah mendengar cerita dari salah satu petugas yang mendengarkan ceritamu. Saya sendiri juga merasakan kepedihan karena Ibu belum berhasil memimpin kota dengan baik dan menjadikan Surabaya bersih dari terorisme.

Ibu juga mohon maaf karena tidak dapat hadir dan mengantarkan suratnya sendiri. Kalau Ibu mampu, mungkin Ibu akan langsung mendatangi rumahmu dan memberikan suratnya sendiri. Namun, ibu harus menghadiri beberapa rapat dan pekerjaan penting lain yang tak bisa Ibu tinggal. Ibu harap kamu mengerti.

Hanya surat ini yang dapat Ibu sampaikan kepada Agni dan keluarga. Sesuai dengan tuntutan yang kamu minta, Ibu juga akan mencabut kebijakan yang kamu perjuangan selama ini. Semoga ini bisa memberikan harapan bagi Agni dan juga saudara-saudara lain yang juga terkena dampak dari bencana yang kita alami.

Ibu pribadi mengucapkan terima kasih karena kembali diingatkan. Semoga kamu menjadi anak yang pandai, dapat membahagiakan kedua orang tua, dan mengharumkan bangsa dan negara.

Surabaya, 24 November 2019
Ibu Waliko
ta

“Ini dari petugas yang nganter kamu kemarin,” kata Ibu sambil tersenyum.

Tuhan memang selalu memberikan kejutan bagi siapa saja yang berusaha. Agni yang telah merampungkan membaca hanya bisa bersyukur. Mungkin ia juga perlu untuk mengunjungi petugas ternyata kemarin telah menolongnya. Untung saja pilihannya di pagi hari tadi bukan pilihan yang membawa kehancuran. Agni sadar bahwa apa yang ia cari selama ini hanya muncul dari sosok yang paling dekat dengan dirinya. Pelukan dari Ibu adalah jawaban dari setiap pertanyaan yang tanyakan selama ini.

-TAMAT-

One thought on “HOME (3/3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s