HOME (1/3)

“Pelukan gratis! Pelukan gratisnya, kak! Pelukan gratis!”

Truk Satpol PP yang tiba-tiba datang mengagetkan Agni yang baru saja mulai menjajakan pelukan. Tanpa pikir panjang, Agni merangsek masuk ke gang-gang kecil untuk menghindari tangan-tangan ganas petugas. Siang yang tidak terlalu bersahabat di bulan Mei tahun ini. Agni berhasil menghindari petugas dengan masuk ke dalam toilet masjid. Beberapa orang lain yang menjadi pengemis palsu atau pedagang yang tidak taat aturan langsung diangkut oleh petugas. Kali ini, Agni bisa bernafas lega.

Agni memutuskan untuk berjalan ke rumah. Kembali ke jalan besar hanya akan membahayakan dirinya lagi. Untungnya ia masih ingat gang-gang kecil yang dulu sempat ia lalui bersama bapaknya. Kalau panas terik begini, mungkin bapak akan membelikan es krim coklat kesukaanku. Sambil menutupi kepalanya dengan papan, ia menyusuri jalan untuk kembali pulang.

***

“Assalamu’alaikum! Agni pulang!”

Biasanya, ibu akan menyambut Agni dengan teriakan keras. Seperti hukum Newton III, kebiasaan Agni yang keluar rumah sebelum mengerjakan tugas sekolah adalah aksi. Sedangkan reaksinya adalah ibu Agni yang selalu mengomel karena anaknya tidak mau menurut.

Hanya saja, siang itu memang tidak ada siapa-siapa. Ibu harus bekerja di pabrik untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untungnya tadi pagi Agni sempat membantu Ibu memasak. Makanan memang sengaja disiapkan untuk pagi dan siang hari. Di meja makan, suara denting piring dan sendok yang beradu menemani rasa sepi Agni. Mata Agni menerawang jauh sambil menyuap mendol dan rawon di atas meja.

Agni hanya bisa mengingat cerita dari salah satu teman bapak yang sesaat melihat kejadiannya. Ada sekira 6 orang yang tiba-tiba masuk menggunakan rompi hitam ke gerbang Gereja. Bapak Agni yang saat itu sedang berjaga, langsung memeluk salah satu orang terdekat. Beliau tak berdaya untuk menghalangi 5 orang lain untuk masuk.

Teman bapak yang saat itu baru saja dari kamar mandi hanya bisa merasakan getaran suara yang memekakkan telinga. Beliau terpelanting dari ledakan bom yang menempel di tubuh orang terakhir. Menyisakan rintihan dan teriakan yang sayup-sayup terdengar. Misa yang seharusnya khidmat berubah menjadi mencekam.

Sejak kejadian itu, Pemerintah Surabaya melarang orang berpelukan di depan umum untuk menanggulangi trauma. Siapapun yang melakukannya akan ditindak tegas. Tanpa terkecuali.

Tatapan Agni kembali ke papan yang sempat ia bawa untuk menjajakan pelukan. HOME. Begitulah Agni menulisnya. Singkatan dari Hug of Manner and Enjoyment. Untuk seorang remaja SMP, Agni cukup nekat untuk melakukan usahanya. Mungkin hasilnya memang tidak seberapa. Bahkan mungkin malah tidak ada sama sekali. Tapi setidaknya, ia bisa mengingat perjuangan Bapak untuk mencegah orang-orang jahat itu masuk ke Gereja.

Agni meraih tudung saji dan menutup makanan yang tersisa. Porsi rawon dan mendol yang cukup besar untuk dua orang. Biasanya makanan yang tersisa di siang hari masih akan dimakan oleh Ibu ketika makan malam. Ibu tidak pernah membolehkan Agni memakan makanan sisa siang hari. Agni harus makan makanan yang sehat dan segar, begitu yang selalu dikatakan oleh Ibu.

Sambil membawa piring bekas makan, Agni meninggalkan papan buatannya di atas meja makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.17 dan Agni belum sholat Dhuhur. Daripada dapet ‘ledakan’ dari Ibu nanti sore, sholat dan tugas harus kelar duluan, pikirnya. Senyum getir menghiasi wajahnya.

Bersambung ke HOME 2/3

Catatan: Cerita bom Surabaya diambil dari kejadian asli, namun dimodifikasi untuk keperluan cerita. Saya memohon maaf apabila ada kalimat yang kurang berkenan di mata pembaca. Terima kasih.

One thought on “HOME (1/3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s