Perempuan Tanah Jahanam (2019)

[SPOILER ALERT]

Awalnya gak pengen nonton karena gak ada budget bulan lalu, tapi berhubung bulan ini tidak banyak film yang layak ditonton, dan karena saya sedang ketemu Erika (teman pena) di bilangan Jakarta Selatan, jadi saya memutuskan untuk menonton Perempuan Tanah Jahanam. Memang sudah layar-layar sisa, tapi setidaknya masih ada seperempat studio yang menonton filmnya tadi siang.

Sebagai catatan, saya belum pernah nonton film horror maupun thriller dari Bang Jokan, jadi ini film thriller pertama dari beliau yang saya sempatkan untuk nonton.

Oh iya, berhubung filmnya juga udah lama tayang dan sekarang sudah minim layar, jadi bakal saya tulis lebih banyak tentang alur cerita yang dibikin sama Joko Anwar di film ini. Sekali lagi, spoiler-nya akan lebih banyak. Bagi yang belum nonton silakan di-skip saja. Bagi yang ingin nonton dengan baca spoiler dulu, selamat membaca.

Perempuan Tanah Jahanam bercerita tentang Maya/Rahayu (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita) . Dua sahabat yang pergi ke desa Harjosari untuk mencari harta warisan dari keluarga Rahayu. Sayangnya, keluarga Rahayu sudah meninggal karena kekuatan jahat. Sedangkan Rahayu sengaja diungsikan ke kota dan berubah nama menjadi Maya agar terhindar warga desa yang memburunya.

Menurut saya akting dari para pemain masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Gundala. Dialog yang tidak kaku, hubungan erat yang ditampilkan Maya dan Dini, serta kengerian yang ditampilkan oleh Ki Saptadi (Ario Bayu) dan Nyi Misni (Christine Hakim).

Begitu juga peran pembantu seperti Ratih (Asmara Abigail) yang menjadi salah satu peran penting dalam cerita. Baik bahasa yang digunakan, logat, dan ekspresinya dalam berakting terlihat memuaskan.

Kerasa nggak?

Ratih

Bagi saya, dari semua karakter, adegan Ratih adalah yang paling menegangkan.

Awalnya saya berekspektasi bahwa ini akan menjadi cerita seram dan tegang. Realitasnya saya kurang menemukan hal tersebut. Memang ada sedikit jumpscare yang membuat kaget dan tegang. Tempat syuting yang dipilih Joko Anwar sebenarnya juga sangat menunjang. Dari segi musik dan color grading juga sangat membantu membuat suasana menjadi suram dan terasa tidak nyaman. Tapi alur cerita yang lompat dan kurang rapi menjadi alasan kenapa setiap elemen yang saya sebut tadi menjadi kurang maksimal. Padahal alur cerita harusnya menjadi inti dari setiap adegan menegangkan.

Terutama pada bagian Maya yang yang tiba-tiba dirasuki oleh tiga anak perempuan kecil dan secara sukses mampu melewati puluhan orang desa, serta berhasil menguburkan kulit dan tulang menjadi satu. Menurut saya itu agak memaksa. Mungkin kalau durasinya lebih panjang sedikit, ceritanya bisa lebih rapi.

Terlepas dari alur yang agak berantakan, konsep wayang Jawa, bahasa daerah yang digunakan, dan kritik sosial pedas yang diselipkan Joko Anwar dalam berbagai dialog patut diacungi jempol ke atas.

Akhir kata, setidaknya masih ada sutradara yang ingin membuat film hantu dengan cerita yang serius. Bukan sekadar ada hantu dan jumpscare yang biasanya kerap ditemui di film-film horror-thriller Indonesia yang lain. Dengan jumlah penonton yang cukup besar, Indonesia masih punya pasar film thriller yang masih bisa ditarget oleh para sineas Indonesia.

Rating: 6/10

One thought on “Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s