Doctor Sleep (2019)

[NO SPOILER]

REDRUM!!! REDRUM!! REDRUM!!! REDRUM!!!!

Apabila kalian pernah dengar dan nonton kata-kata mencekam di atas, maka kalian sudah pernah atau setidaknya sudah tau cuplikan adegan The Shining yang dulu digarap oleh Stanley Kubrick.

Kembali ke tahun 1998, ketika salah seorang fans menanyakan bagaimana nasib Danny Torance dan ibunya, Wendy Torance, yang berlari dari kejaran ayahnya, Jack Torance. Pertanyaan sederhana itu membawakan ide untuk Stephen King dan mengarahkan beliau untuk membuat buku lanjutan dari The Shining berjudul Doctor Sleep yang terbit pada tahun 2013. Namun, tak hanya itu saja, yang lebih tidak disangka adalah kita juga disuguhkan film berjudul sama yang rilis pada saat Halloween tahun ini.

Danny Torrance (Ewan McGregor) sebagai aktor utama, tampil sekitar 40 tahun lebih tua dibanding dirinya ketika membintangi The Shining. Seorang alkoholik yang ingin menghindari dunia mistis dan tak menggubris “sinar” yang ia miliki selama ini. Sayangnya tidak semudah itu. Trauma Danny menjadi salah satu konflik internal yang cukup rumit dalam hidupnya.

Dick Halloran (Carl Lumbly) sudah menjadi mentor semenjak pertemuan mereka di dapur tersebut. Di film ini, Dick juga mengajarkan hal-hal baru tentang dunia “The Shining” untuk mengatasi trauma yang diderita Danny. Memang tidak terlalu signifikan, tapi perannya mampu menghidupkan beberapa sisi cerita yang dibangun Mike.

True Knot, sebuah ikatan yang memburu orang yang memiliki “sinar” menjadi halangan utama dalam film. Rose the Hat (Rebecca Ferguson), Crow Daddy (Zahn McClarnon), dan Snakebite Andi (Emily Alyn Lind) adalah 3 sosok utama yang berhadapan dengan Abra dan Danny. Akting yang menampakkan sisi jahat mereka terlihat meyakinkan. Khususnya di beberapa adegan ketika mereka berburu. Mark Flanagan menciptakan suasana mencekam yang dan menegangkan. Khususnya ketika setiap BGM detak jantung dimainkan dengan tempo yang makin lama makin cepat.

Abra (Kyliegh Curran) yang menjadi teman pena Danny, sayangnya tidak terlalu memberikan penampilan yang signifikan. Terutama saat di bagian klimaks. Pembangunan karakter yang sudah baik di awal, tidak dituntaskan dengan baik di akhir. Poin minus yang sebenarnya saya rasa masih bisa lebih baik lagi.

Menariknya, baik Stephen King maupun Mike Flanagan tidak melupakan tunas yang sudah ditancapkan sejak film The Shining di tahun 1980. Setiap perintilan dari hotel ditampilkan dengan sangat rapi dan sesuai, menjadikan Doctor Sleep sebagai film pelengkap yang tidak lepas dari segala kengerian Overlook Hotel dan makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya.

Akhir kata, film Doctor Sleep adalah penutup cerita yang mampu memberikan klimaks dan antiklimaks yang pas. Menjadikan film The Shining dari Stanley Kubrick sebagai pondasi cerita yang kuat dan dituntaskan oleh Mike Flanagan dengan baik.

Rating: 8/10

One thought on “Doctor Sleep (2019)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s