Pretty Boys (2019)

[NO SPOILER] Sebuah ulasan film.

Desta dan Vincent telah malang melintang di jagad hiburan. Keduanya telah mencatatkan berbagai judul film dalam portofolio mereka. Sayangnya, dua orang yang telah bersahabat selama 27 tahun ini belum pernah sekalipun bermain film dalam judul yang sama.

Menceritakan sebuah kisah pertelevisian, khususnya bagaimana orang-orang dari daerah selain Jakarta yang merantau ke Jakarta untuk menjadi artis. Bagaimana kerasnya dunia hiburan. godaan yang disajikan, dan bagaimana hal tersebut bisa merusak persahabatan. Premis yang sebenarnya cukup penting untuk disampaikan dan Tompi menciptakan film yang masih mudah dicerna oleh penonton.

Logika ceritanya masih bisa dinikmati dengan baik. Termasuk bagaimana hubungan Anugerah (Vincent Rompies) dengan ayahnya (Roy Marteen) yang tidak terlalu baik dan menjadi salah satu konflik dalam cerita. Rahmat (Dedy Mahendra Desta) yang yang mabuk dalam dunia hiburan dan hedonisme. Artis kaget menjadi istilah yang tepat bagi keduanya.

Danilla, secara mengejutkan, bermain cukup baik sebagai Asty. Asty merupakan teman dari Rahmat dan Anugerah. Danilla yang biasanya ngomong jorok juga berhasil memberikan kesan yang berbeda dari penampilannya selama ini.

Karakter minor menjadi salah satu elemen penting dalam film ini. Ada begitu banyak karakter yang sebenarnya hanya punya sedikit peran penting dari plot utama yang dijalankan oleh Vincent, Desta, dan Danilla. Namun kehadiran mereka menjadi pelengkap yang mampu membangun busur karakter dan menyelesaikan konflik-konflik yang ada di dalam cerita.

Ada karakter-karakter kejutan yang sudah jarang main atau bahkan belum pernah main film sekalipun. Lebih detailnya bisa disaksikan sendiri dalam film.

Lagu-lagu yang diputar di film ini punya daya tarik tersendiri. Seperti lagi Superstar dari Arditho Pramono, lagunya Pamungkas, dan tentu saja lagunya Danilla yang dibuat khusus di tempat syuting untuk Pretty Boys. Lengkap dengan suara khas Danilla Riyadi yang ngangenin.

Apa yang kurang dari film ini ada pada karakter Roni (Onad) dan karakter . Terutama Onad yang punya porsi cukup besar dalam film. Memang dari segi guyonan srimulat, mereka masih bisa membuat penonton tertawa. Tapi ketika dialog, agak susah untuk menikmati akting Onad yang terlalu banyak bergerak dan minim kontak mata dengan lawan bicaranya. Padahal karakter Onad ini cukup unik dan memorable.

Berdasarkan apa yang disampaikan Tompi di balik layar, Danilla dan Onadio sempat mendalami peran dan mengikuti kelas akting untuk menunjang peran mereka dalam film ini. Walaupun Onad, menurut saya, masih kurang dalam kemampuan berakting, tapi usahanya masih patut diapresiasi untuk menghidupkan guyonan dalam film ini.

Akhir kata, film Pretty Boys adalah kumpulan guyonan retjeh yang bisa dinikmati selepas pulang kerja atau ketika akhir pekan. Berkumpul bersama kawan-kawan untuk mengurangi stress. Kita bisa menemukan berbagai karakter minor yang saling menghidupkan dan jika didalami, bisa memberikan makna berbeda yang menunjukkan bagaimana dunia hiburan di Jakarta bekerja.

Rating: 7/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s