Bumi Manusia (2019)

[NO SPOILER] Sebuah ulasan film.

Pramedya Ananta Toer menuliskan tetralogi Bumi Manusia ketika ia menjadi tahanan politik ketika rezim Soeharto berkuasa. Ceritanya menjadikan ia sebagai salah satu aset terbaik bangsa Indonesia. Bahkan hingga hari ini, buku-bukunya telah menjadi salah satu karya sastra terbaik yang pernah dimiliki kita. Termasuk cerita yang membawa tokoh bernama Minke, seorang penulis yang ingin menyamaratakan hak dan kewajiban, sekaligus status antara pribumi, Indo, dan Belanda.

Sebelum masuk ke ulasan film Bumi Manusia, sebagai catatan, saya belum pernah membaca tetralogi Bumi Manusia. Saya juga belum pernah baca buku Pram yang lain. Jadi ulasan ini murni dari apa yang saya tonton dalam film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo dan kawan-kawannya.

Cerita langsung masuk ke kehidupan Minke. Bagi yang belum pernah baca buku, harus tahan dengan cerita bertele-tele yang berlangsung selama 3 jam. Terasa hambar dan kurang berasa emosinya. Porsi cerita jauh lebih banyak menyoroti hubungan Minke dan Bunga Penutup Abad yang agak cringy. Mungkin saya saja yang gak suka bualan semacam itu. But Annelies Mellema is indeed pretty.

Minke yang diperankan oleh Iqbaal, menurut saya, juga masih memiliki sisi Dilan yang sulit dihapuskan dan tidak banyak pembeda yang ditampakkan ke penonton. Saya seperti melihat Dilan, hanya saja dengan menggunakan blangkon dan kumis tipis.

Sayangnya lagi, tidak banyak perjuangan penyetaraan kasta yang dikulik. Menurut saya masih bisa ditambah lagi porsinya. Tapi memang ini adalah karya Hanung. Dari segi rekam jejak, Hanung memang lebih sering menampilkan bagaimana kisah romantis dalam filmnya. Termasuk dalam film ini. Memang ada perjuangan penyetaraan status pribumi, Indo dan Belanda. Hanya saja, cerita itu hanya ada di bagian awal dan akhir cerita. Sisanya seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya.

Nyai Ontosoroh menjadi salah satu karakter inti dan Ine Febriyanti memerankan dengan sangat baik. Peran gundik yang sangat buruk di mata khalayak jaman dulu bisa sangat terlihat. Tentu saja, walaupun seorang gundik atau nyai, Ontosoroh merupakan salah satu gundik yang mampu mengelola kebun luas, hasil peternakan, serta puluhan pekerja, baik itu laki-laki maupun perempuan.

Darsam, seorang pengawal yang berasal dari daerah Madura, juga menjadi salah satu scene stealer dalam film ini. Tingkahnya yang unik, walaupun tidak terlalu banyak dialog, tetap bisa dinikmati dan menjadi obat ngantuk untuk berjuang menyelesaikan film ini.

Lagu Ibu Pertiwi-nya keren! Suara Iwan Fals dan Once Mekel sangat khas dan pas di telinga. Sepertinya hal ini yang paling saya suka dari film ini. Sayangnya, pemutarannya tidak sesuai dengan cerita yang ditampilkan oleh Hanung.

Desain latar tempat dan pakaian pemainnya patut diapresiasi. Walaupun masih ada efek CGI yang kurang, tapi usaha untuk menciptakan dan menghidupkan suasana daerah Wonokromo cukup baik.

Kesimpulannya, cerita yang terlalu panjang dan lebih fokus kepada kisah cinta antara Minke dan Annalies kurang bisa dinikmati oleh orang yang tidak membaca bukunya. Butuh perjuangan untuk menuntaskan cerita berdurasi 3 jam. Namun masih ada sisi positif dari segi lagu, karakter Nyai Ontosoroh, dan desain tempat serta pakaian yang dikenakan.

Rating: 6/10

P.S.
Nanti kalau waktunya nanti harap berdiri ya. Tetap harus menghormati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s