27 Steps of May (2019)

[SPOILER ALERT!!!] Sebuah ulasan film.

Di tahun ke-24 ini, marilah kita mengheningkan cipta sejenak. Mengingat 27 Steps of May yang tayang di tanggal 27 bulan April. Film yang judulnya sedikit menyesatkan penontonnya. Mungkin bentar lagi filmnya bakal dikasih petisi kayak film Dua Garis Biru yang katanya memuat konten kontroversial. Eh, tapi ternyata udah dicabut petisinya. Jadi kita sedikit tenang buat film yang katanya jadi salah satu film terbaik di tahun 2019 ini.

27 Steps of May bercerita tentang progress. Bagaimana seseorang akhirnya bisa menerima masa lalu. Menjalani masa lalu dengan membawa sisi positif dan negatif yang pernah ia alami. May, seorang anak SMP yang diperkosa beberapa orang sekaligus, harus berusaha selama lebih dari 8 tahun untuk akhirnya bisa keluar dari rasa sakit yang ia rasakan. Bukan hanya fisik, tapi juga psikologis. Proses untuk mengakui bahwa setiap orang punya masa terkelam. Dan langkah maju menjadi akhir cerita yang seharusnya diharapkan.

Pada film ini, May dan Bapaknya yang sama-sama terkungkung dalam masa lalu. May terus mengurung diri di dalam kamar. Hanya mau keluar ketika makan saja. Makan pun hanya mau yang tanpa rasa. Aksi teatrikal juga ditunjukkan seperti membuat boneka yang menyiratkan bahwa perempuan itu harus dibungkus rapi dan dijaga dengan plastik. Dicuci tiap hari agar tetap bersih dan terlihat cantik.

Di samping itu, warna baju yang ia kenakan, cara pemakaian baju yang harus rapi, disetrika, rambut yang ditata, tubuh yang harus ideal, semua menggambarkan bagaimana May harus memoles diri sedemikian rupa agar tidak dicap sebagai wanita kotor.

Turn point terjadi ketika terjadi kebakaran dan membuat lubang kecil di tembok. Lubang di tembok yang menjadi simbol bahwa harapan ternyata masih ada. Lubang di tembok yang mampu menghadirkan dunia luar untuk May. Mengembalikan kesenangan masa kecilnya.

Semua butuh proses. Lubang yang awalnya kecil dan memberikan keajaiban sendiri untuk May, akhirnya semakin besar tiap harinya. Sampai akhirnya May berhasil keluar dari kamar dan menceritakan semuanya. Bercerita dengan caranya sendiri.

Dan akhirnya May melangkah keluar rumah. “Bukan salah Bapak.” Menjadi kalimat penutup yang apik. Salah satu film di tahun ini yang membuat saya meneteskan air mata. Semua memang butuh proses.

Rating: 8.5/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s