Hellboy (2019)

[NO SPOILER] Sebuah ulasan film.

Bocah neraka kembali hadir dengan pemeran dan plot cerita baru. Kalau yang dulu-dulu sempat berteman dengan makhluk ikan berwarna biru yang bisa baca sejarah sesuatu dengan menyentuhnya, sekarang Hellboy di temani oleh seekor kucing keturunan Asia dan seorang cenayang berkulit hitam. Iya, kali ini filmnya juga pengen lebih diverse biar seperti film-film yang lain.

Jauh-jauh ketemu teman pena di Bogor dan kami memutuskan untuk menonton film ini. Sebenarnya film ini di dalam jagad Twitter sudah dihujat habis-habisan karena masalah sensor dari LSF yang lumayan banyak. Awalnya hanya bisa dinikmati oleh umur 21 tahun ke atas, kemudian agar bisa lebih dinikmati banyak orang, rating umurnya diturunkan menjadi 17 tahun ke atas. Hal ini membuat LSF perlu untuk memberikan masukan agar beberapa adegan sadisnya bisa disunting sebelum ditayangkan secara umum.

Dari segi alur cerita, film ini berjalan cukup cepat. Saya nggak bisa mengunyah adegan demi adegan secara perlahan karena tiba-tiba sudah disuguhi dengan adegan yang lain. Kecepatan ini membuat saya jadi kurang merasakan sisi emosional dari film.

Sepertinya pembuat film ingin menunjukkan sisi gelap seperti DC dengan menampilkan adegan brutal (yang pada akhirnya masih disensor juga) berupa darah dan semacamnya, tapi juga masih ingin menampilkan sisi humor seperti Marvel dengan guyonan receh yang lebih sering nggak bikin ketawa. Sayangnya, hal tersebut tidak terlalu berdampak signifikan. Justru penonton dibuat bingung karena saya nggak ngerti saya harus merasa iba atau justru tertawa di beberapa adegan tertentu. Film ini merupakan salah satu film yang membuat saya berpikir “kapan selesainya?” setelah 30 menit menonton.

Karakter-karakter yang dihadirkan juga tidak terlalu menonjol. Mungkin kita sudah tahun Hellboy dari dua film sebelumnya. Tapi untuk karakter-karakter lain tidak memberikan bekasan yang cukup untuk diingat setelah menonton. Bahkan untuk karakter Nimue alias The Queen of Blood yang dimainkan oleh Milla Jovovich juga tidak terlalu menyeramkan. Hubungan antara Hellboy dengan ayahnya juga tidak terlihat cukup dekat. Jadi dari segi karakter juga kurang menarik perhatian.

Ending yang nggak ada klimaks sama sekali juga membuat saya tidak merasa excited ketika menonton final battle yang disuguhkan. Nggak seru banget berantemnya. Harusnya kalau dijadikan perang semacam Hellboy II: The Golden Army mungkin akan lebih menarik. Saya nggak yakin film ini akan diberikan sequel lanjutan. Walaupun di akhir cerita masih ada akhiran yang menggantung dan bisa dijadikan pijakan untuk melanjutkan seri berikutnya. Lionsgate sepertinya harus berharap lebih besar terhadap film John Wick: Parabellum agar bisa menutupi kerugian dari produksi film Hellboy.

Akhir kata, film ini cukup membuat saya ngantuk dan ingin segera keluar dari bioskop. First impression yang cukup buruk karena saya nontonnya juga berdua sama teman. Mungkin lebih baik saya nonton film yang lain kemarin. Hotel Mumbai, misalnya.

Rating: 4/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s