Narablog: Sebuah Cermin Pendewasaan Diri

Hampir 24 tahun saya hidup di dunia yang super berisik ini. Entah sudah berapa tulisan yang telah saya unggah ke dalam blog pribadi saya. Dulu sekali, waktu saya masih SMP, saya tidak menggunakan blog ini, tapi blog yang lain. Blog saya masih penuh dengan pernak-pernik penghias khas anak remaja. Konten yang saya buat juga hanya mengedepankan rasa emosional saja. Tak jarang saya hanya melampiaskan emosi negatif ke dalam data digital berupa kata dalam kalimat. Tapi sekarang, tulisan saya jauh berbeda dengan yang dulu. Blog mengubah cara pandang saya terhadap dunia. Tak terkecuali terhadap diri saya sendiri. Bagi saya, blog adalah sebuah cermin pendewasaan diri.

Ketika SD, memang saya sudah tertarik dengan dunia literasi dan tulis-menulis. Ketika anak-anak lain bermain di lapangan, saya lebih memilih menghabiskan waktu istirahat sekolah dengan membaca buku di perpustakaan. Buku-buku tersebut benar-benar menarik saya ke dunia-dunia baru. Dari pengalaman itu, terbesit pikiran untuk ikut menuliskan apa yang saya pikirkan juga. Hanya saja, saya menulis di kertas biasa. Saya baru mengerti dunia narablog ketika saya SMP.

Selama masa SMP, saya sering main ke warnet untuk membuat konten baru. Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, saya masih lebih sering meracau disbanding dengan membuat konten yang menarik. Baru kelas tiga SMP saya mulai memahami bagaimana cara menulis dan menggunakan internet yang baik. Saya memperbaiki konten-konten yang saya unggah. Hingga akhirnya saya mengikuti lomba blog yang diadakan oleh salah satu SMK Swasta di Malang.

Bersama satu kawan saya, kami berdua diundang untuk mencoba mengikuti lomba blog tersebut. Hanya saja, dari kami berdua tidak ada yang mendapatkan juara. Saya tidak terlalu sedih waktu itu. Sebab memang lomba itu adalah lomba pertama saya.

Beranjak SMA, saya sempat mengganti platform blog saya agar tidak terjebak dengan tulisan-tulisan saya yang lama. Pergaulan SMA dan cara pandang yang baru membuat saya lebih mengerti mengenai isu-isu sosial yang terjadi di sekitar saya. Mengingat saya bukan orang yang mudah berbicara di depan publik, menuangkan pikiran saya menjadi tulisan adalah opsi terbaik.

Saya terus menulis dan belajar menjadi seorang narablog. Hingga akhirnya saya mengikuti lomba blog saya yang kedua. Tulisan yang dilombakan bertemakan “Andai Aku Jadi Presiden”. Saya Lomba kedua saya setelah sekian lama tak pernah melirik dunia kompetisi blog.

Sumber: KIAS

Tak disangka, saya dipanggil ke atas panggung ketika pengumuman. Alhamdulillah, saya berhasil meraih juara kedua. Sebuah pencapaian yang tidak pernah saya sangka. Menjadi narablog ternyata tidak hanya baik untuk diri sendiri maupun orang lain, tapi juga mampu memberikan pundi-pundi yang bisa mengarahkan kita menjadi seorang profesional sejati.

Nama saya Rega Rachmad Fauzie Ardiansyah. Jaga-jaga kalau pembaca tanya soal ini.

Saya tidak ingat mendapatkan apa saja. Tapi yang pasti, saya mendapatkan benda ini. Saya tidak tahu namanya apa. Benda ini terbuat dari batu dan lumayan berat. Sekarang entah dimana.

Hasil dari lomba dari ekskul jurnalistik yang pernah saya ikuti dulu ketika SMA.

Sayangnya, cerita hidup kita tak selalu sesuai dengan harapan. Ketika saya pulang, saya memberitahu keluarga saya bahwa saya menjuarai sebuah kompetisi blog. Saya berharap akan mendapatkan sambutan yang meriah, mengingat saya tidak bilang dulu kalau mau ikut lomba. Kenyataannya, saya tidak terlalu diperhatikan. Bukannya merasa mendapat dukungan, justru saya merasa minder dan tidak lagi bersemangat melanjutkan dunia blog.

Setelah beberapa minggu berpikir, saya memutuskan untuk melepaskan dunia blog yang sudah saya gemari sejak SMP. Saya menghapus blog yang telah mengantarkan saya ke atas panggung. Saya memutuskan berhenti.


4 tahun berlalu. Saya masih menulis. Tapi tidak mengunggahnya ke blog. Sampai akhirnya, di akhir masa kuliah, saya berpikir untuk membuat sebuah blog baru. Setelah mengonsep tema blog yang akan saya usung, akhirnya lahirlah Mindcraft. Seperti seorang pengarang yang melahirkan anak-anaknya (baca: buku), saya memutuskan untuk terus menulis dan mengunggah tulisan-tulisan yang layak dibagi ke Mindcraft.

Saya mengawalinya dengan satu tulisan berjudul “Mengorbankan Rasa Ingin Tahu”. Kondisi minim ide membuat saya termotivasi untuk membaca lebih banyak buku. Menunda menulis agar tulisan saya tidak sekadar memenuhi laman internet seperti tulisan-tulisan kurang berkualitas lainnya.

2018 menjadi sebuah tahun yang menyadarkan saya bahwa saya menulis karena memang saya menyukainya. Saya lebih intens menulis di tahun tersebut. Walaupun kembali menjadi seorang amatir, tapi justru hal ini membuat saya membuka diri dengan hal-hal baru. Mencari gaya menulis saya sendiri, metode berpuisi saya sendiri, dan teknik mengulas film saya sendiri.

Pada tahun 2019 ini, saya mencoba untuk mengikuti kompetisi dengan tujuan membangkitkan semangat kompetitif saya. Memoles teknik penulisan saya agar bisa lebih mudah dinikmati oleh pembaca, tanpa mengurangi substansi dari apa yang hendak saya berikan. Menjadi sebuah awal untuk kompetisi-kompetisi berikutnya.

Saya juga ingin mengembalikan jiwa menulis saya. Khususnya menjadi narablog produktif yang membahas tentang ulasan film baru, membuat puisi, dan membahas isu-isu di Indonesia yang menarik serta perlu untuk dibahas. Tentu saja juga saya menakar diri sendiri apakah saya mampu membahas isu-isu itu. Menulis dengan sadar akan kemampuan diri sendiri masih tetap saya pegang sebagai salah satu prinsip.

Saya merasa bersyukur bisa bertemu dan masuk ke dunia narablog karena saya bisa memberikan gagasan lewat tulisan. Syukur-syukur kalau bisa memberikan motivasi buat orang lain untuk bisa berbuat hal baik. Saya memang pernah meninggalkan dunia narablog, tapi jiwa narablog tak pernah lepas dari diri saya. Akhirnya, saya kembali dengan diri yang lebih baik, berorientasi ingin menjadi orang yang lebih baik, dan memberikan kebaikan kepada pembaca dengan sebuah tulisan di blog.

Blog memang menjadi sebuah cermin pendewasaan diri. Setidaknya untuk saya pribadi.

4 thoughts on “Narablog: Sebuah Cermin Pendewasaan Diri

  1. Kok aku ngakak yo. Iku jenenge batu nisan, eh vandel wkwkw

    Dan btw sek mending awkmu iso ngebusek blog alay jaman biyen, aku gaiso soale lali password dan email e wes di banned (gara2 gak tau aktif). Aib jaman biyenku awet seumur hidup eh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s