Coldplay: A Head Full of Dreams (2018)

Satu jam sebelum jam kerja mulai dan saya baru ingat kalau hari ini adalah hari penayangan film dokumenter Coldplay. Tiket sebenernya udah dijual sejak bulan Oktober, tapi karena kata berita cuma ditayangin di CGV dan sedangkan CGV paling deket cuma ada di Surabaya, maka saya urung niat buat nonton.

Plot twist: Ternyata Cinemaxx yang ada di Matos juga nayangin. Waktu saya cek, masih ada beberapa kursi kosong di baris huruf H ke bawah. Karena film ini cuma ditayangin tanggal 14 November, nggak banyak mikir, saya langsung coba buat pesen online. Untungnya masih ada spot yang nggak pinggir-pinggir banget. Jadi leher nggak bakal terlalu sakit kalau abis nonton.

IMG20181115093511.jpg

Saya pilih yang jam tayangnya pukul 7 malam biar nggak terlalu malam berada di tempat yang sebenernya saya nggak suka. Seandainya bioskop nggak gabung jadi satu sama tempat itu, mungkin saya bakal lebih bahagia dan lebih enjoy nonton di bioskop.


[SPOILER ALERT!!!]

Coldplay sebenernya diambil dari nama band lain. Sebelum Coldplay, mereka sempet pakai nama Star Fish. Coldplay diambil karena nama band itu udah nggak disukai sama pemiliknya yang lama. Nama terlalu sulit buat dieja dan sering salah tulis. Akhirnya karena udah nggak dipake, Chris dkk inisiatif buat ngambil nama itu. Sempet menyesal kenapa bisa pakai nama itu, tapi ya… there’s no turning back.

Film dimulai dengan footage 4 anggota yang siap-siap mau konser. Saya nggak begitu ingat konser keberapa. Yang pasti Chris udah nggak gondrong, jadi kemungkinan pas masa album kedua atau setelahnya.

Film ini kebanyakan berisi footage dari Mat Whitecross sejak awal kali mereka sekolah, bikin band, main musik di kamar, sampai ‘konser’ kecil mereka di sebuah pub kecil. Memang benar, semua dimulai dari hal kecil.

Agar lebih rinci, Mat membedah semua lagu-lagu utama dari tiap album. Mulai dari proses nulisnya, rekaman, konflik, hingga akhirnya rilis dan dinyanyiin pas konser. Khususnya pas tur dunia kemarin. Detail prosesnya membuat saya sadar kalau bikin karya, bikin satu lagu aja nggak gampang. Nggak terkecuali untuk sosok mereka berempat.

Konflik yang ada, mulai dari Will, drummer mereka yang sempet keluar (walaupun untungnya balik lagi). Phil, manajer mereka yang juga sempet keluar, bahkan dua kali. Phil sempet nggak sama Coldplay untuk satu album X & Y (akhirnya balik lagi, tapi nggak jadi manajer, just as shadow member). Hingga proses nulis lagu dan nyusun album yang juga banyak konflik. Nyatuin 5 kepala jadi satu suara itu nggak mudah.

Menurut saya, bagian film yang paling bikin merinding ada dua. Pertama, ketika Chris Martin bikin semacam sumpah di tahun 1998 bahwa 4 tahun lagi mereka berempat (sama Phil jadi berlima) bakal jadi band yang besar. Kerennya, 4 tahun 3 hari kemudian mereka ngadain konser besar di Glastonbury.

Kedua, testimoni dari Mat Whitecross Si sutradara. Dia emang udah bikin footage pendek-pendek yang dia ambil dari kamera Ayahnya. Karena waktu itu harga kaset lumayan mahal, dia cuma bisa ngerekam beberapa hal pas mereka latihan atau cuman sekedar cangkruk kayak anak muda pada umumnya. Ada yang bagus, ada yang jelek. Satu hal yang pasti adalah konsistensi buat bikin tiap rekaman mulai dari band mereka yang Star Fish hingga sampai jadi Coldplay.

Ghost Stories

Satu album yang begitu emosional. Cerita dari tiap lagi Ghost Stories merupakan bentuk katarsis dari Chris yang baru aja pisah sama istrinya. Ya nggak salah kalau isinya emang mayoritas lagu melankolis semua. Tapi kerennya, sebagai keluarga dan sebuah band, Jonny, Will, Guy, dan Phil ngebantu yang terbaik biar Chris bisa senyum lagi.

What a friendship!

A Head Full of Dreams

Album terakhir yang judulnya sudah jelas. Menjadi band besar dan bisa konser bahkan bikin tur dunia adalah beberapa mimpi yang ada di kepala Chris sejak kecil. Bagi yang penasaran bisa langsung nonton trailer aslinya.

Pendek kata, ini salah satu film dokumenter yang cukup keren dan recommended buat siapa aja yang doyan Coldplay. Walaupun Every Teardrop is a Waterfall (lagu favorit saya) nggak masuk ke dokumentasi, saya masih bisa menikmati lagu-lagu legenda Coldplay mulai dari album yang paling awal.

Film ini cuma tayang satu hari. Iya, serentak 14 November kemarin aja. Udah kayak pemilu. Tapi kalau mau nonton bisa beli langsung di Amazon. Tanggal penjualannya 16 November 2018. Jadi kalau ada duit, sok atuh dicobain. Yang pasti tonton filmnya sampe abis. Aftercredit juga seru banget, jadi jangan sampe kelewatan.

P.S.
Suatu saat kalau nanti Coldplay bisa dateng ke Indonesia, mungkin saya bakal serius nabung buat nonton konsernya.

One thought on “Coldplay: A Head Full of Dreams (2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s