Rebranding Games

The Reign of Mobile Legends

Saya pikir, hampir enggak ada makhluk millennial yang enggak kenal Mobile Legends: Bang Bang. Permainan mini berdurasi sekitar 15-30 menit setiap babak ini merupakan game terpopuler untuk kategori Top Free(mium) Action dan telah diunduh lebih dari 100 juta kali di Play Store.

mobile legends
Sumber: vazgaming.com

Saya sendiri termasuk orang yang sudah pernah mencoba memainkan permainan ini. Eksperimen saya ini berlangsung selama 30 menit. Secara umum pola permainannya mirip dengan DOTA 2. Mainnya juga jauh lebih sederhana karena tinggal pencet-pencet layar gawai saja. Justru yang bikin berkeringat adalah ketika kita hampir mati, dikejar-kejar 5 lawan sekaligus, dan kita jauh dari ‘rumah’. Gema ‘monster kill’ akan segera hadir dalam sukma kita. Mungkin umpatan bernada sarkastik juga akan hadir di fitur ngobrol. Silahkan mengutuk diri karena jadi beban tim.

Sebaliknya, ketika berhasil menghabisi 2, 3, bahkan 5 musuh sekaligus, GGWP dan raungan Savage akan menjadi memori yang manis. Tinggal skrinsut saja dan langsung unggah ke media sosial terdekat. Produksi dopamine meningkat drastis dan menciptakan pleasure yang membuat kita ingin main lagi dan lagi. Sungguh momen yang indah.

Oke, cukup sampai disitu saja penjelasannya. Saya tidak akan membahas adiksi gim karena saya pikir hal itu sudah sering. Mari menggunakan kacamata marketing untuk mengulik bagaimana fenomena yang sedang hits di Tanah Air ini bisa diambil saripatinya.

Sistematis

Dulu, waktu gim masih menjadi hal yang dianggap tidak produktif, orang akan memandang para gamer sebagai orang cupu, nerd, enggak gaul, dan label-label negatif lainnya. Tapi semua berubah ketika terminologi e-sport menyerang. Para gamer tidak mau kalah dengan orang-orang besar yang mengubah Ministry of War jadi Ministry of Defense.

sport /spôrt/ (n) an activity involving physical exertion and skill in which an individual or team competes against another or others for entertainment.

Seperti jengkol yang kalau dimasak dengan teknik yang tepat, bisa menjadi makanan lezat tanpa bau menyengat, permainan video sekarang juga melakukan hal yang sama. Membentuk identitas baru sebagai e-sport. Tapi bagaimana bisa? I mean, where is the sport in it? (Finger dude, the holy finger)

re·brand /rēˈbrand/ (v) change the corporate image of (a company or organization).

Sekarang, millennial akan mempertimbangkan game sebagai bidang karier mereka. Menjadi seorang professional gamer adalah salah satu opsi cita-cita. Tidak ada lagi stigma. Orang tua bisa jadi juga akan mendukung. Mengingat Rupiah yang bisa didapatkan juga tidak sedikit. Kompetisi yang bertajuk Indonesia Games Championship 2018 dan antusiasme para pemain telah menjadi tanda bahwa proses rebranding games telah mencapai salah titik kesuksesan.

Nama-nama besar juga ikut hadir untuk meramaikan e-sport. Semua dibikin keren. Mulai dari komputer, tetikus, headphone, tas, baju, kursi, dan berbagai produk lainnya. Mereka tahu bahwa opportunity cost-nya akan besar kalau kesempatan ini tidak diambil.

Sebuah sistem yang terangkai sedemikian rupa. Menggeser persepsi negatif menjadi positif. Bukan hanya psychological shift, tapi juga social and cultural shift. Bahkan mampu menghasilkan Rupiah atau bahkan Dollar lewat sentuhan jari. Gimana? Anda tertarik buat banting setir jadi pemain pro juga?

Dolanan

Bagaimana dengan permainan tradisional?

Saya berimajinasi kalau saja permainan tradisional bisa mendapatkan kesempatan juga. Bukan hal yang tidak mungkin apabila game tradisional ikut menikmati proses rebranding. Mulai dari memodifikasi produk, memberi nama yang kekinian, hingga memasarkannya dengan strategi yang efektif dan efisien.

Saya ingin mengambil contoh senapan bambu atau pletokan bambu. Permainan yang menghiasi masa kecil saya, kini sudah jauh berkurang produksi, distribusi, bahkan konsumsinya. Padahal, saya pikir permainan tersebut tidak jauh berbeda dengan Nerf. Jika saja ilmu yang dipakai lebih advance sedikit, saya pikir bukan hal yang mustahil jika permainan ini bisa ‘naik kasta’.

senapan bambu
Sumber: Kompasiana

Misalkan, dari segi produksi. Bukan hanya satu varian saja yang bisa dihasilkan, tapi bisa dibentuk berbagai model. Mulai dari laras pendek, hingga panjang. Permainan warna cerah juga dibutuhkan jika memang pasar yang dituju adalah anak-anak ingusan. Dengan catatan tidak menggunakan unsur yang berbahaya dalam pembuatannya.

Dari segi distribusi, tidak harus berada di pinggir jalan. Kesan orang akan berbeda ketika mainan tersebut dipasang seperti sebuah gambar di bawah ini. Itu akan jauh lebih enticing.

nerf guy with a lot of nerf
Sumber: Youtube

Sedangkan, dari segi promosi, ada Youtube yang bisa jadi ajang tunjuk bakat memainkan pletokan. Gandeng saja beberapa Youtuber kenamaan. Buat 2 tim yang saling tembak-menembak. Bubuhkan ringkasan aturan permainan untuk mempengaruhi persepsi agar permainan ini punya image yang kompetitif, sekaligus menyenangkan.

Jika itu berjalan dengan baik (dan ada yang mau investasi modal), saya pikir permainan ini bisa terangkat dan punya tempat. Setidaknya itu bisa jadi awalan yang baik. Me-rebranding permainan lokal untuk bersaing secara global. Serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi orang-orang kreatif yang ada di baliknya.

Intangible Asset

Salah satu aset tidak berwujud yang bisa menjadi ‘penolong’ untuk orang-orang yang minim pendidikan adalah ilmu. Prinsipnya sederhana, yaitu dengan membagi ilmu dan menjadikan ‘berbagi ilmu’ sebagai budaya, sebuah kebiasaan kolektif mulai dari hirarki teratas hingga ke bawah.

Perbadaan signifikan antara penjual Nerf dan penjual Pletokan Bambu adalah ilmu pemasaran. Menurut pengamatan saya, setidaknya akan berbeda ketika penjual mainan bambu tersebut bisa mendapatkan ilmu baru. Bukan sekadar kemampuan untuk membuat kerajinan tangan tersebut, melainkan juga metode-metode untuk menjualnya.

Bahkan, mereka bisa mengubah mainan tradisional yang punya kesan kuno dan tidak kekinian, menjadi mainan yang digemari, mendapatkan tempat khusus, dan bisa bersaing dengan gawai-gawai yang ada dalam saku orang-orang mampu.

Ditulis ulang pada tanggal: 26 April 2018

One thought on “Rebranding Games

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s