Slamet

Setelah hidup selama hampir 23 tahun, akhirnya saya menemukan seseorang dari negeri sendiri yang bisa menjadi role model dalam hidup saya. Bukan lagi tokoh fiksi dalam varian game Final Fantasy yang sering saya mainkan ataupun dari cerita novel, komik, bahkan film. Bukan juga dari ceruk lain di dunia. Beliau adalah orang Indonesia.

Namanya R. Slamet Iman Santoso. Akrab dipanggil Slamet oleh kawan dan kerabat. Sempat hampir meninggal ketika baru lahir karena terbungkus oleh selaput-yang-saya-lupa-namanya (seriously, what is that thing again?) dan akhirnya bisa berhasil diselamatkan. Mungkin itu yang menginspirasi kedua orang tua beliau dan akhirnya menyematkan nama Slamet sebagai identitas.

Waktu saya membaca autobiografi beliau, jujur saja, saya kurang nyambung dengan apa yang disampaikan. Bukan karena penyampaian yang rumit, tapi lebih kepada kondisi zaman yang jauh berbeda. Beliau hidup sejak zaman Belanda, proklamasi kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, reformasi, hingga tahun 2000an sebelum akhirnya beliau menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, yang menurut saya memenuhi kriteria ideas worth spreading.

Basa

Untuk seseorang yang begitu jenius sekaligus kreatif semasa hidupnya, Slamet Sontoloyo adalah sosok yang menginspirasi untuk mahasiswa yang enggak lulus-lulus ini. Dengan kondisi pendidikan yang berbeda jauh dari sekarang, beliau mampu menguasai berbagai bahasa yang bisa menghubungkan dirinya kepada pengetahuan baru, relasi, serta dunia.

Yak tul, hal pertama yang paling bermakna ketika membaca autobiografinya adalah rasa kagumnya terhadap bahasa. Menafsirkan dunia abstract-conceptual dalam pikiran kita dan menuangkannya dalam berbagai bentuk ucapan dan tulisan.

Beliau juga menjelaskan ‘aturan’ ketika berbahasa. Apapun bahasanya, terlepas dari label nasionalis.

  1. Tiap kalimat harus singkat, jelas, dan tepat.
  2. Tidak boleh ada satu kata pun yang kelebihan, yang tidak diperlukan.
  3. Tiap kata harus harus dipertanggungjawabkan.
  4. Apa yang bisa disatukan, harus dipersatukan
  5. Tiap kalimat hanya mempunyai satu arti.

5 hal yang membuat kuliah umum beliau sepi peminat. Bahkan termasuk para mahasiswa Fakultas Sastra UI yang pasca kuliah kedua mangkir setelah mendengar 5 kalimat sakti beliau.

Ndagel

Kedua, yang membuat Slamet ini menarik adalah guyonan khas beliau yang tidak ada tandingannya. Mungkin kalau sekarang mirip dengan Pak Menteri PU yang katanya menyandang gelar Menteri Paling Lucu di Kabinet Kerja Pak Jokowi. Tapi lucunya Alm. Pak Slamet beda. Bukan lelucon slapstick yang sering disuguhkan oleh ‘komedian’ di tipi kelir zaman sekarang. Saya pikir kalau beliau ikut ajang kompetisi Stand Up Comedy di KOMPor gAS TV, segmen roasting bakal jadi andalan beliau.

Ini secuil cerita yang bagi saya paling ngena

photo_2018-03-30_11-04-38
photo_2018-03-30_11-04-41

Saya pikir gelar Presiden tidak menjadi batu penghalang buat sifat humoris beliau. Apalagi untuk Bang Radit atau Om Indro.

Dunia Politik dan Pendidikan Indonesia

Orang Lapangan

Orang yang paling benci upacara ini juga seorang yang cukup berpengaruh di dunia pendidikan. Memulai karirnya dalam bidang kedokteran, lalu beralih menjadi dosen, dan akhirnya menjadi Founding Father Fakultas Psikologi UI. Di samping itu, beliau juga merupakan salah satu orang yang mengurus UI sejak masih di tangan Belanda, hingga akhirnya diserahkan kepada orang Indonesia.

Bukan hanya menjadi dosen, dalam dunia pendidikan, ia juga kerap ditunjuk sebagai petugas lapangan untuk berbagai masalah yang hadir di Salemba. Mulai dari ujian masuk, penanganan mahasiswa, menjadi Guru Besar, hingga sempat diangkat menjadi pemimpin di Universitas tertua tersebut.

Curhat Sedikit

Kembali ke tahun 2018, dimana Indonesia masih memiliki masalah pelik dalam dunia pendidikan, saya sebagai orang yang sangat beruntung karena bisa mengenyam pendidikan hingga ke PT dan punya fasilitas yang jauh lebih modern dibanding dahulu, harusnya bisa berbuat lebih dari beliau. Mengambil porsi untuk menyeimbangkan sistem di negeri tercinta ini.

Saya tidak ingin memungkiri bahwa pendidikan Indonesia tidak bisa hidup sendiri. Ada sektor lain seperti politik yang juga perlu dikendalikan, dikelola.

Politikus Indonesia sangat terikat pada politik, pada ideologi yang muluk, tetapi dangkal pemikirannya. Mereka tidak pernah berpikir, bahwa ideologi apa pun tidak akan menjadi kenyataan, bila tidak didahului analisis tuntas, agar kemudian menyusun sistem operasional yang realistis dan rapi.
-R. Slamet Iman Santoso

Beliau sendiri juga tidak jarang menghadapi berbagai keruwetan birokrasi yang menghambat pembangunan. Maklum, Indonesia pada saat itu lagi anget-angetnya menikmati kemerdekaan. Hanya saja, setelah ratusan tahun menjalani masa kerajaan dan kolonial, sedikit banyak akan mempengaruhi perilaku masyarakat. Tak terkecuali orang-orang yang dianggap ningrat. Menimbun kekayaan untuk diri sendiri jauh lebih menyenangkan dibandingkan membangun pondasi setelah kemerdekaan.

Sayangnya, Indonesia yang sekarang juga tidak jauh berbeda. Oknum-oknum yang sekarang sedang memegang posisi-posisi politis telah melakukan analisis tuntas, tapi bukan murni untuk membangun bangsa. Saya tidak menyangkal bahwa oknum yang sudah terbukti korupsi adalah orang-orang berpendidikan tinggi. Tapi ya… begitu. Saya pikir berita-berita di media sudah cukup untuk menjelaskan ketidakseimbangan di negeri ini.

Di tengah keruwetan, perlu diingat bahwa analisa mendalam tetap diperlukan. Just like Math that tells us to find harmony in chaos.

Proyeksi

Manusia Indonesia yang begitu kaya, bisa menjadi harapan untuk bangsanya sendiri. Satu pelajaran paling berharga dari salah satu orang paling berpengaruh untuk pendidikan Indonesia.

Menghilangkan gelar pahlawan devisa dari para TKI dan memberikannya kepada pekerjaan-pekerjaan yang lebih produktif lagi. Menyiapkan generasi yang lebih baik lagi agar bisa mengisi sektor-sektor yang masih penuh dengan warisan masalah. Bukan untuk Indonesia 2045, tapi secepatnya.

R. Slamet Iman Santoso
Walaupun ada beberapa hal yang saya tidak sepakati dengan beliau, your shares still amaze me, perhaps forever.

One thought on “Slamet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s