Mengorbankan Rasa Ingin Tahu

Baru saja kita menikmati daging sapi dan kambing dari hasil jerih payah kita masing – masing. Ada yang dibuat rendang, rawon, gulai, sate, dan lain sebagainya. Mungkin saya akan mencoba sup iga beberapa waktu ke depan. Katanya sup iga itu cukup enak. Sayang sekali kalau melewatkannya.

Hari qurban adalah hari yang seharusnya membahagiakan. Terutama bagi umat muslim. Merayakan salah satu hari bersejarah yang dialami Nabi Ibrahim bersama anaknya, Ismail, dalam momen paling mendebarkan dalam hidup mereka. Nabi Ibrahim diberikan ujian untuk merelakan hal yang paling ia dambakan selama bertahun – tahun untuk disembelih. Sedangkan Ismail juga diuji untuk mengikhlaskan dirinya sendiri demi Yang Maha Benar. Karena mereka juga manusia, memiliki kehendak untuk memilih. Bisa saja Ibrahim memilih untuk lari dan lebih menyayangi putra beliau. Tapi, beliau tetap memutuskan untuk memberikan apa yang paling dicintai di dunia, demi Yang Maha Mencintai makhluk ciptaannya. Ismail pun demikian. Ia meyakinkan Ayahnya bahwa mengorbankan dirinya sendiri adalah pilihan yang paling benar dan paling bijak. Sampai akhirnya, terjadilah momen ajaib tersebut, yang biasanya kita dengarkan waktu pelajaran agama atau waktu khotbah sholat Ied.

Sejarah manusia berqurban memang selalu mengingatkan kita untuk bersyukur dan menanggalkan setiap kecintaan dunia yang melebihi kecintaan kita kepada Sang Pencipta. Anak – anak Adam yang diperintahkan untuk memberikan hasil bumi terbaik mereka untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan istri yang cantik. Sulaiman yang rela memenggal kuda terbaiknya. Bahkan Rasul yang rela mengorbankan rasa sedih ditinggal dua orang terdekat beliau untuk terus memperjuangkan cita peradaban madani. Semua punya hal yang paling dicinta. Semua mengorbankannya untuk Sang Pencipta rasa cinta itu sendiri.

Bagaimana dengan sekarang? Karena satu dan lain hal, saya harus terlambat lulus 1 semester untuk mengejar ketertinggalan dengan mengerjakan beberapa tugas akhir yang belum sempat terkerjakan di semester 7. Satu hal yang paling mengganggu, memecah konsentrasi ketika mengerjakan tugas kuliah adalah media sosial. Sudah banyak sekali tulisan – tulisan yang menjelaskan rumitnya hidup di dunia informasi. Dimana kita disuguhkan banyak sekali data dan opini dari berbagai sisi, berbagai sudut pandang, dan berbagai kanal informasi. Namun, bagi saya pribadi, media sosial merupakan media yang paling berpengaruh dalam menanggalkan fokus ketika masa produktif. Adiksi menjadi salah satu kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi saya yang demikian. Tidak enak rasanya kalau tidak browsing satu hari. Tidak enak kalau tidak stalking akun – akun berpengaruh dalam hidup kita. Tidak enak rasanya kalau kita tidak meng-update aktivitas keseharian kita. Ini berlaku bagi saya pribadi. Kalau untuk orang lain, saya masih kurang banyak sekali data. Butuh beberapa riset untuk mengetahui apakah mereka juga terkena adiksi yang sama atau tidak.

Jika ditinjau dari sudut pandang biopsikologi, hal – hal yang menyebabkan adiksi berasal dari apa yang diistilahkan sebagai dopamine. Dopamine merupakan suatu hormon yang memberikan pleasure ketika kita telah menyelesaikan sesuatu. Jika saya amati siklus dalam bermain media sosial, orang akan mendapatkan pleasure tersebut ketika mendapatkan suatu yang membahagiakan. Jika media sosialnya Instagram, maka kita akan senang ketika Instastory kita dilihat oleh banyak orang. Siaran Live kita disaksikan dan diberi gambar-hati-bagian-pojok-kanan-bawah-yang-saya-tidak-tahu-namanya itu. Foto atau video yang kita upload dikomentari hal – hal positif dan mendapatkan ratusan likes dalam waktu beberapa menit saja. Bahkan ada nilai sendiri bahwa orang yang lebih banyak followers-nya secara ‘kasta’ lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang lebih sedikit. Atau pandangan bahwa angka following kita harus lebih sedikit dibandingkan dengan angka followers. Konsep yang tidak jauh beda juga berlaku apabila kita mendapatkan retweet yang banyak di twitter atau mendapatkan ribuan likes di Facebook.

Kemudian, seluruh sistem pemicu dopamine tersebut ditunjang dengan apa yang kita sebut notifikasi. Notifikasi memberikan kita tanda bahwa ada yang mengikuti akun instagram kita, ada yang menyukai komentar di instagram kita, ada yang menyukai atau berkomentar di foto yang baru kita unggah, dan lain sebagainya. Disini, menurut saya, notifikasi merupakan pemicu distraksi fokus terbesar dari seluruh sistem yang ada pada media sosial. Bahkan kalaupun tidak ada notifikasi, justru kita merasa gelisah, cemas, atau bahkan takut bahwa foto yang kita unggah tidak disukai warganet.

Dengan zaman yang serba modern seperti sekarang, saya pikir Tuhan tidak akan memberikan wahyu secara eksplisit seperti zaman dulu. Masa itu sudah berakhir pada masa keemasan Rasul dulu. Sisanya sekarang adalah menggunakan alat yang membedakan kita dengan hewan, akal pikiran. Pemecahan masalah bisa dilakukan dengan alat tersebut. Begitu pula sebaliknya, kita bisa membuat kejahatan paling hebat dengan menggunakan prefrontal cortex kita.

Lantas, apa hubungannya dengan berqurban? Kita sudah mengetahui bahwa hal yang diqurbankan adalah hal yang paling kita cintai, sampai melebihi batas dan melebihi cinta kita kepada Sang Pencipta. Bagi saya pribadi, satu hal yang paling saya cintai adalah keingintahuan saya terhadap hal – hal di media sosial. Terkadang, sistem adiktif media sosial yang begitu halus bisa melenakan kita dari pekerjaan – pekerjaan yang lebih produktif (kecuali kalau anda memang bertugas sebagai pemantau media sosial (admin), itu lain cerita lagi). Bagaimana kalau saya mencetuskan konsep baru tentang mengorbankan media sosial demi sesuatu yang lebih produktif. Teknisnya memang bisa berbeda, ada yang membatasi sampai batas waktu tertentu, ada yang menjauhkan diri dari handphone, ada yang menguninstall aplikasinya, ada yang mematikan notifikasi, dan lain sebagainya. Karena begitu kita melihat ada notifikasi baru, kita langsung segera mengambil handphone itu dan membukanya (apalagi kalau dari orang terdekat, biasanya akan semakin kuat rasa ingin tahunya).

Apa efeknya? Rasa ingin tahu yang membius kita, bisa memperlambat kita dalam bekerja, telat sholat, telat makan, dan telat – telat yang lain. Hanya karena kita ingin tahu bagaimana #HariPatahHatiNasionalJilid2, hanya karena kita ingin tahu bagaimana kondisi orang Rohingya, hanya karena kita ingin tahu bagaimana kasus Novel Baswedan dan pimpinannya, hanya karena kita ingin tahu selebgram yang kita follow sedang meng-endorse barang apa, dan rasa ingin tahu yang lain.

Mendewakan rasa ingin tahu dapat melalaikan kita dari Sang Pencipta Rasa Ingin Tahu itu sendiri.

Saya tidak meminta untuk menanggalkan rasa ingin tahu itu hingga habis. Hanya perlu dikendalikan, dibenahi, ditakar kadar keseimbangannya. Kapan kita perlu mengetahui dan kapan kita tidak perlu tahu. Jangan sampai rasa ingin tahu itu mengendalikan kita, kitalah yang mengendalikan rasa ingin tahu itu.

P.S.
Termasuk baca postingan blog saya hehe

One thought on “Mengorbankan Rasa Ingin Tahu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s