Jumanji: The Next Level (2019)

[NO SPOILER]

Jumanji Next Level kembali menghadirkan 4 tokoh utama di film sebelumnya. Ada Dwayne “The Rock” Johnson, Jack Black, Kevin Hart, dan Karen Gillan. Suara genderang yang khas juga menemani suasana tegang dalam setiap sub-level. Jumanji menyajikan cerita yang lebih tertata dan mengunggulkan karakter-karakter yang dimainkan.

Jangan lupa kalau ini adalah film main game. Maka nggak salah kalau sub-judulnya adalah The Next Level. Namun, apakah memang memberikan level yang berbeda dibandingkan film sebelumnya? Iya, film ini membawa Jumanji ke konsep yang jauh berbeda dengan film Jumanji yang dulu. Kesulitan permainan juga lebih terasa dibandingkan dengan film Jumanji: Welcome to the Jungle.

Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson) mungkin berotot besar dan terlihat menyeramkan, tapi bukan Dwayne Johnson kalau nggak bisa memerankan karakter apapun. Yes, technically, even The Rock could become a gigantic tooth fairy in another movie. And yes, he could do something else in this movie. Berperan sebagai orang tua justru bikin The Rock jauh lebih lucu. Tentu saja masih dengan tatapan bodoh yang dibikin dengan suara elang. That’s the biggest reason why he became the highest paid actor in the world. But is it just him or there is more?

Continue reading “Jumanji: The Next Level (2019)”

Tentang SIMAK (2/2)

Ini bagian kedua. Kalau belum baca yang pertama, mungkin perlu baca Tentang SIMAK dulu biar paham.

Berhubung pengumuman SIMAK UI Semester Genap dimajukan jadi tanggal 3 Desember 2019, maka rencana saya yang awalnya menuliskan dan mengunggah tulisan ini pada tanggal 10 Desember 2019, akan saya percepat juga.

Tes Potensi Akademik

Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya, TPA terdiri dari tes verbal, kuantitatif, dan penalaran. Saya jelasin satu per satu ya.

Tes verbal bicara seputar kemampuan logika pengolahan kata. Mulai dari sinonim, antonim, dan membaca teks untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan.

Continue reading “Tentang SIMAK (2/2)”

Dark Waters (2019)

[NO SPOILER]

Mark Ruffalo masuk dalam cerita Dark Waters sebagai seorang pengacara dari Taft Law yang ingin menguak rahasia besar sebuah korporasi yang mencatatkan banyak kematian. Sebuah film legal thriller yang membawa Mark Rufallo sebagai Robert Bilott yang membawa asa seorang peternak di daerah West Virginia untuk melawan perusahaan raksasa Amerika bernama DuPont.

Di studio yang sama pada tahun 2015, Mark Ruffalo sempat menjadi salah satu anggota surat kabar Baron Globe yang melacak dan memecahkan kasus tentang pastor-pastor yang melakukan penganiayaan dan pelecehan anak kecil di gereja-gereja lokal. Film ini dinobatkan sebagai film Academy Award for Best Picture kala itu.

Dikarenakan film ini akan lebih baik kalau minim referensi, maka saya tidak akan cerita banyak.

Continue reading “Dark Waters (2019)”

HOME (2/3)

Cerita sebelumnya dari HOME

2/3

Malam minggu adalah malamnya anak muda. Orang-orang akan berbondong-bondong ke tempat-tempat yang sedang terkenal dan mengambil foto bersama 0rang-orang terkasih. Tapi tidak bagi Agni. Ibunya sudah cukup capek setelah bekerja seharian di pabrik. Inisatif Agni membantu ibunya untuk menyiapkan makan malam. Menghangatkan rawon yang tadi pagi sempat disantap bersama.

“PRnya sudah selesai, Nduk (panggilan untuk anak perempuan Jawa)?”
“Emm… Alhamdulillah sudah, Bu,” jawab Agni ragu.
“Kurang berapa?” selidik Ibu.
“Kurang matematika tiga soal, Bu. Harusnya sih bisa selesai malam i–“
“Ya memang harus bisa. Jangan bikin malu Ibu dan Bapak,” Ibu menyambar.
“Nggih (Iya), Bu.”

Agni teringat kembali ketika Bapak menyisihkan waktunya tiap malam untuk membantu Agni mengerjakan PR. Tentu saja kalau tidak ada shift malam di Gereja. Matematika adalah salah satu yang tersulit. Walaupun Bapak sempat bilang bahwa matematika di pendidikan Indonesia adalah hasil program Orde Baru untuk Calistung yang belum diubah hingga sekarang, tapi setidaknya Agni masih bisa belajar satu-dua hal. Bapak selalu mengingatkan untuk memberikan mengerahkan setiap keringat yang dipunya untuk setiap bidang yang ditekuni. Termasuk mengerjakan PR matematika.

Bapak memang cukup rajin untuk membaca buku-buku tua hasil peninggalan Eyang. Menjadi satpam sudah pasti punya banyak waktu luang. Bapak biasanya membawa satu-dua buku untuk dibaca di pos, tidak peduli siapa yang menulis. Kalau sedang bosan baca buku Eyang, biasanya Bapak juga meminjam di perpustakaan umum atau mencari pinjaman dari orang lain.

Salah satu tokoh yang pernah Bapak kenalkan ke Agni adalah Abdurrahman Wahid. Presiden Indonesia yang sempat diangkat oleh Amien Rais sekaligus diturunkan oleh Amien Rais. Bapak mengingatkan kalau beliau adalah salah satu aset terbesar yang pernah dimiliki oleh Indonesia.

Saking kagumnya dengan Gusdur, Bapak sampai memajang foto ketika Gusdur diturunkan dari jabatannya sebagai Presiden. Foto itu terpampang jelas di ruang keluarga. Memang foto itu tampak aneh karena Gusdur hanya memakai kaos biasa serta celana pendek sambil melambaikan tangan ke kamera dan khalayak yang ada di depan kediamannya. Beliau seperti sudah tahu dan akan dilengserkan dan tetap pada prinsip ‘gitu aja kok repot’.

Di samping kecerdasan Gusdur, Bapak juga belajar tentang memandang manusia sebagai manusia. Gusdur mengajarkan Bapak kalau berbagai identitas yang kita kenakan bukan berarti menciptakan perpecahan. Hal ini jadi salah satu alasan Bapak mau bekerja sebagai satpam di Gereja. Walaupun alasan ekonomi tetap yang utama.

“Agni, dimakan nasinya. Keburu dingin,” Ibu memotong lamunan Agni.
“Hehe iya, Bu,” sambil menyendok rawon yang sudah hampir dingin.

Agni segera menghabiskan sisa nasi yang masih ada di piringnya. Besok hari Minggu dan kalau PR selesai hari ini, Agni bisa main dengan lebih leluasa. Papan yang tadi siang ia pakai sudah menunggu untuk ditampilkan lagi.

***

Continue reading “HOME (2/3)”