Categories
Jurnal Pensieve

Slamet

Setelah hidup selama hampir 23 tahun, akhirnya saya menemukan seseorang dari negeri sendiri yang bisa menjadi role model dalam hidup saya. Bukan lagi tokoh fiksi dalam varian game Final Fantasy yang sering saya mainkan ataupun dari cerita novel, komik, bahkan film. Bukan juga dari ceruk lain di dunia. Beliau adalah orang Indonesia.

Namanya R. Slamet Iman Santoso. Akrab dipanggil Slamet oleh kawan dan kerabat. Sempat hampir meninggal ketika baru lahir karena terbungkus oleh selaput-yang-saya-lupa-namanya (seriously, what is that thing again?) dan akhirnya bisa berhasil diselamatkan. Mungkin itu yang menginspirasi kedua orang tua beliau dan akhirnya menyematkan nama Slamet sebagai identitas.

Waktu saya membaca autobiografi beliau, jujur saja, saya kurang nyambung dengan apa yang disampaikan. Bukan karena penyampaian yang rumit, tapi lebih kepada kondisi zaman yang jauh berbeda. Beliau hidup sejak zaman Belanda, proklamasi kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, reformasi, hingga tahun 2000an sebelum akhirnya beliau menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, yang menurut saya memenuhi kriteria ideas worth spreading.

Categories
Jurnal Pensieve

Mengorbankan Rasa Ingin Tahu

Baru saja kita menikmati daging sapi dan kambing dari hasil jerih payah kita masing – masing. Ada yang dibuat rendang, rawon, gulai, sate, dan lain sebagainya. Mungkin saya akan mencoba sup iga beberapa waktu ke depan. Katanya sup iga itu cukup enak. Sayang sekali kalau melewatkannya.

Hari qurban adalah hari yang seharusnya membahagiakan. Terutama bagi umat muslim. Merayakan salah satu hari bersejarah yang dialami Nabi Ibrahim bersama anaknya, Ismail, dalam momen paling mendebarkan dalam hidup mereka. Nabi Ibrahim diberikan ujian untuk merelakan hal yang paling ia dambakan selama bertahun – tahun untuk disembelih. Sedangkan Ismail juga diuji untuk mengikhlaskan dirinya sendiri demi Yang Maha Benar. Karena mereka juga manusia, memiliki kehendak untuk memilih. Bisa saja Ibrahim memilih untuk lari dan lebih menyayangi putra beliau. Tapi, beliau tetap memutuskan untuk memberikan apa yang paling dicintai di dunia, demi Yang Maha Mencintai makhluk ciptaannya. Ismail pun demikian. Ia meyakinkan Ayahnya bahwa mengorbankan dirinya sendiri adalah pilihan yang paling benar dan paling bijak. Sampai akhirnya, terjadilah momen ajaib tersebut, yang biasanya kita dengarkan waktu pelajaran agama atau waktu khotbah sholat Ied.

Sejarah manusia berqurban memang selalu mengingatkan kita untuk bersyukur dan menanggalkan setiap kecintaan dunia yang melebihi kecintaan kita kepada Sang Pencipta. Anak – anak Adam yang diperintahkan untuk memberikan hasil bumi terbaik mereka untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan istri yang cantik. Sulaiman yang rela memenggal kuda terbaiknya. Bahkan Rasul yang rela mengorbankan rasa sedih ditinggal dua orang terdekat beliau untuk terus memperjuangkan cita peradaban madani. Semua punya hal yang paling dicinta. Semua mengorbankannya untuk Sang Pencipta rasa cinta itu sendiri.