Categories
Eksplorasi Jurnal Rhyme

Mt. Buthak (6-7 July 2019)

As you reach the top
Take a moment to stop
Greet the morning breeze
And hold the memories

Mt. Buthak 2868 MASL
6-7 July 2019

Categories
Eksplorasi Jurnal Rhyme

Blurry

Can you see?
Is it blurry?
But after all,
It’s necessary.

Malang, June 19
-FA

Categories
Eksplorasi Jurnal Rhyme

Tumpak Sewu

Turning it upside down
Both sadness and the frown
Seek the beauty behind the wall
Here we are, thousand of waterfall

Tumpak Sewu/Coban Sewu
Sunday, 9 June 2019

Categories
Jurnal Pensieve

Fauzie Ardiansyah

Kesempatan 40 Hari

Sudah hampir 6 bulan berjalan di tahun 2018 ini. Termasuk bulan Ramadhan yang sudah ditunggu-tunggu sejak awal Januari lalu. Berakhirnya bulan Ramadhan juga berarti terselesaikannya satu resolusi tahun ini. Membuat karya-karya baik buat orang-orang di Malang dan memperbaiki diri seoptimal mungkin.

Jujur saja, saya hanya merencanakan untuk jadi relawan di salah satu yayasan di Malang dan membantu dengan kemampuan yang saya bisa. Beruntungnya saya, karena saya diberikan pekerjaan yang tidak terlalu saya kuasai. Sebenarnya sederhana hanya mengambil gambar, mengedit gambar, dan membuat video. Tugas pertama tidak ada masalah. Tantangan justru hadir pada tugas kedua dan ketiga.

Masalah hadir ketika saya harus membagi waktu antara pekerjaan profesional dengan tugas sebagai relawan. Memulai kerja lebih pagi, mengurangi jam istirahat siang hari, berangkat ke tempat yayasan setiap sore, dan mengakhiri hari sekitar jam 10 malam setiap hari.

Belum lagi bertemu dengan adik-adik yayasan yang kadang menyenangkan, kadang menggemaskan, dan kadang juga membuat emosi memuncak. Asam manis jadi relawan pada tahun ini cukup membekas dan membuat saya bisa lebih mengenal banyak hal, banyak orang baru, banyak kondisi warga yang belum layak, dan adik-adik yang perlu dibina lebih tekun dan dengan orang yang lebih ahli lagi.

Beberapa hari ini sudah mulai kangen dengan suasana seperti itu. Walaupun terkadang cukup bikin panas hati dan kepala, ada momen-momen ketika mereka memberi inspirasi secara tidak langsung buat saya. Semoga saya dan kawan-kawan saya bisa dipertemukan dengan bulan Ramadhan lagi tahun depan. Aamiin.

Categories
Jurnal Pensieve

Membentuk Akhlaq Tak Semudah Membentuk Es Kepal Milo

Harusnya tulisan ini diunggah tanggal 27 Mei 2018. Tapi karena berbagai pekerjaan yang harus diproritaskan, tulisan ini barus bisa diunggah tanggal 10 Juni 2018.

Masih dengan lampu dan tiang listrik yang sama. Senja kali ini menyuguhkan warna ungu yang manis. Menemani sisa beberapa hari lagi sebelum bertemu dengan hari kemenangan. Apakah saya sudah mengoptimalkan waktu yang tersisa untuk memperbaiki diri?

Terbentur, Terbentur, Terbentur, Terbentuk

Dari sudut pandang psikologi, salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah membentuk perilaku atau membentuk ulang perilaku. Membentuk perilaku biasanya dilakukan ketika kita baru menginjak masa balita atau anak-anak. Masih kosongan istilahnya. Sedangkan membentuk ulang perilaku (Overwrite) dilakukan ketika kita sudah memiliki perilaku tertentu.

Saya bilang sulit karena saya sendiri yang sudah masuk usia dewasa saja masih sulit. Usia dewasa berarti sudah memiliki pola pikir yang lebih matang, tingkat rasionalitas yang lebih tinggi dibanding remaja atau anak-anak. Apalagi anak-anak dan remaja yang masih cenderung pada sisi emosional dan minim menggunakan rasionalitas.

Walaupun saya hanya jadi tukang potret dan tidak ikut sebagai tim pendidik, sedikit banyak saya juga berinteraksi dengan anak-anak yayasan. Ada yang ceria, ada yang super diam (macam saya), ada yang tidak suka diatur, ada yang suka misuh, ada yang nurut, dan lain sebagainya. Begitu banyak karakter dalam satu tempat. Ada lebih dari 50 anak yang harus ‘dikendalikan’ setiap harinya. Sedangkan sumber daya manusia yang tersedia hanya sekitar 4-5 orang.

Beberapa interaksi dan pengamatan singkat membentuk hipotesis baru, bahwa masih ada potensi untuk mereka membentuk akhlaq yang diprogramkan, apabila kita punya waktu yang lebih banyak dan SDM yang punya keahlian lebih baik lagi.

Categories
Jurnal Pensieve

Proyek Menulis Layaknya Proyek eKTP

Menulis

Sudah sebulan lebih semenjak tulisan terakhir dibuat. Rencana yang harusnya mau rutin menulis harus ditunda karena rencana yang lain. Proyek nulis ini seperti eKTP yang tak kunjung ‘e’. Rencananya mau membuat ID Card kekinian, tapi uangnya malah dikorupsi besar-besaran. Dan masih satu dalang besar yang baru kena. Proyek triliyunan tidak mungkin hanya dimotori seorang diri saja.

Terlebih lagi, plastic yang kita dapatkan sekarang hanya beda jenis saja dengan yang sebelumnya. Menurut saya, tidak seharusnya ada kata ‘e’ di depan. Toh kita juga tidak bias menikmati fasilitas daring dari kartu identitas buatan negara itu.

Tapi sudahlah… Masalah lain terus bergulir. Kasus-kasus lain seperti terorisme, suhu politik yang kian hari kian panas, dan bulan Ramadhan yang sudah menginjak hari ketujuh. Daripada semakin tidak relevan, lebih baik kita bahas masalah yang terakhir saja.

Categories
Jurnal Pensieve

Rebranding Games

The Reign of Mobile Legends

Saya pikir, hampir enggak ada makhluk millennial yang enggak kenal Mobile Legends: Bang Bang. Permainan mini berdurasi sekitar 15-30 menit setiap babak ini merupakan game terpopuler untuk kategori Top Free(mium) Action dan telah diunduh lebih dari 100 juta kali di Play Store.

mobile legends
Sumber: vazgaming.com

Saya sendiri termasuk orang yang sudah pernah mencoba memainkan permainan ini. Eksperimen saya ini berlangsung selama 30 menit. Secara umum pola permainannya mirip dengan DOTA 2. Mainnya juga jauh lebih sederhana karena tinggal pencet-pencet layar gawai saja. Justru yang bikin berkeringat adalah ketika kita hampir mati, dikejar-kejar 5 lawan sekaligus, dan kita jauh dari ‘rumah’. Gema ‘monster kill’ akan segera hadir dalam sukma kita. Mungkin umpatan bernada sarkastik juga akan hadir di fitur ngobrol. Silahkan mengutuk diri karena jadi beban tim.

Sebaliknya, ketika berhasil menghabisi 2, 3, bahkan 5 musuh sekaligus, GGWP dan raungan Savage akan menjadi memori yang manis. Tinggal skrinsut saja dan langsung unggah ke media sosial terdekat. Produksi dopamine meningkat drastis dan menciptakan pleasure yang membuat kita ingin main lagi dan lagi. Sungguh momen yang indah.

Oke, cukup sampai disitu saja penjelasannya. Saya tidak akan membahas adiksi gim karena saya pikir hal itu sudah sering. Mari menggunakan kacamata marketing untuk mengulik bagaimana fenomena yang sedang hits di Tanah Air ini bisa diambil saripatinya.

Categories
Jurnal Pensieve

Slamet

Setelah hidup selama hampir 23 tahun, akhirnya saya menemukan seseorang dari negeri sendiri yang bisa menjadi role model dalam hidup saya. Bukan lagi tokoh fiksi dalam varian game Final Fantasy yang sering saya mainkan ataupun dari cerita novel, komik, bahkan film. Bukan juga dari ceruk lain di dunia. Beliau adalah orang Indonesia.

Namanya R. Slamet Iman Santoso. Akrab dipanggil Slamet oleh kawan dan kerabat. Sempat hampir meninggal ketika baru lahir karena terbungkus oleh selaput-yang-saya-lupa-namanya (seriously, what is that thing again?) dan akhirnya bisa berhasil diselamatkan. Mungkin itu yang menginspirasi kedua orang tua beliau dan akhirnya menyematkan nama Slamet sebagai identitas.

Waktu saya membaca autobiografi beliau, jujur saja, saya kurang nyambung dengan apa yang disampaikan. Bukan karena penyampaian yang rumit, tapi lebih kepada kondisi zaman yang jauh berbeda. Beliau hidup sejak zaman Belanda, proklamasi kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, reformasi, hingga tahun 2000an sebelum akhirnya beliau menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, yang menurut saya memenuhi kriteria ideas worth spreading.

Categories
Jurnal Pensieve

Mengorbankan Rasa Ingin Tahu

Baru saja kita menikmati daging sapi dan kambing dari hasil jerih payah kita masing – masing. Ada yang dibuat rendang, rawon, gulai, sate, dan lain sebagainya. Mungkin saya akan mencoba sup iga beberapa waktu ke depan. Katanya sup iga itu cukup enak. Sayang sekali kalau melewatkannya.

Hari qurban adalah hari yang seharusnya membahagiakan. Terutama bagi umat muslim. Merayakan salah satu hari bersejarah yang dialami Nabi Ibrahim bersama anaknya, Ismail, dalam momen paling mendebarkan dalam hidup mereka. Nabi Ibrahim diberikan ujian untuk merelakan hal yang paling ia dambakan selama bertahun – tahun untuk disembelih. Sedangkan Ismail juga diuji untuk mengikhlaskan dirinya sendiri demi Yang Maha Benar. Karena mereka juga manusia, memiliki kehendak untuk memilih. Bisa saja Ibrahim memilih untuk lari dan lebih menyayangi putra beliau. Tapi, beliau tetap memutuskan untuk memberikan apa yang paling dicintai di dunia, demi Yang Maha Mencintai makhluk ciptaannya. Ismail pun demikian. Ia meyakinkan Ayahnya bahwa mengorbankan dirinya sendiri adalah pilihan yang paling benar dan paling bijak. Sampai akhirnya, terjadilah momen ajaib tersebut, yang biasanya kita dengarkan waktu pelajaran agama atau waktu khotbah sholat Ied.

Sejarah manusia berqurban memang selalu mengingatkan kita untuk bersyukur dan menanggalkan setiap kecintaan dunia yang melebihi kecintaan kita kepada Sang Pencipta. Anak – anak Adam yang diperintahkan untuk memberikan hasil bumi terbaik mereka untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan istri yang cantik. Sulaiman yang rela memenggal kuda terbaiknya. Bahkan Rasul yang rela mengorbankan rasa sedih ditinggal dua orang terdekat beliau untuk terus memperjuangkan cita peradaban madani. Semua punya hal yang paling dicinta. Semua mengorbankannya untuk Sang Pencipta rasa cinta itu sendiri.